Artikel

Tradisi Bulan Muharram di Pesantren

(Oleh: Mufidatul Bariyah, Indonesian Youth Union)

Bulan Muharram merupakan bulan pertama pada tahun Hijriah, sebagaimana Januari untuk tahun Masehi. Dalam Islam, Muharram memiliki kedudukan sebagai bulan yang disucikan, bulan yang memiliki sejumlah istimewaan dan keutamaan. Pada bulan ini, Allah melarang manusia untuk berbuat kerusakan, sebagaimana yang telah disinggung dalam Al-Qur’an surah at-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنا عَشَرَ شَهْراً في‏ كِتابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّماواتِ وَ الْأَرْضَ مِنْها أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَ قاتِلُوا الْمُشْرِكينَ كَافَّةً كَما يُقاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقينَ
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,”


Berdasarkan pandangan para Ulama, yang dimaksud empat bulan haram tersebut adalah bulan Muharram, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Rajab. Selain bulan Ramadhan, Muharram diyakini sebagai salah satu bulan yang penuh kemuliaan, terdapat banyak keutamaan bagi umat muslim yang senantiasa melaksanakan kebaikan di bulan ini.

Tak ayal jika masyarakat muslim di Indonesia berlomba-lomba mewarnai bulan ini dengan berbabagai keragaman aktifitas, baik berupa tradisi atau ritual keagamaan. Tidak terkecuali tradisi Muharram yang diekspresikan dari bilik Pesantren. kalangan Santri tak ingin ketinggalan menyambut kedatangan bulan Muharram, berbagai aktifitas dan amaliyah juga dilakukan demi meraup kemuliaan bulan mulia ini. Bulan Muharram dianggap mendatangkan berkah, sehingga para santri dianjurkan untuk berbahagia, berlapang dada dan bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan.


Tradisi Bulan Muharram merupakan rutinitas tahunan bagi kalangan Pesantren, setiap pesantren memiliki ciri khas tersendiri untuk menyambut datangnya bulan ini. di Pesantren Syekh Abdul Qodir al-Jailani, Kraksaan, Jawa Timur misalnya, para santri menyambut datangnya bulan ini dengan rasa bahagia. Sebagai wujud syukur, seluruh santri bersama pimpinan pengasuh melaksanakan pemembacaan doa akhir dan awal tahun, membaca surah-surah pilihan, melaksanakan shalat tasbih berjamaah, hingga berpuasa. pengasuh Pesantren KH. Hafidz Aminuddin, juga menghidangkan menu buka puasa yang lezat kepada seluruh santri, berbeda dengan menu sederhana yang biasa mereka hidang.
Selain itu, tidak sedikit pesantren-pesantren di Indonesia menyambut hari besar Islam Muharram dengan pekan festival lomba. Semarak santri telah berhasil mendirikan panggung pesantren dengan beberapa macam lomba, baik lomba Pidato, Kaligrafi, Hadrah ala santri, Penulisan Karya Ilmiah, Kreasi Nadhom, dan lainnya. Semua lomba diselenggrakan dalam rangka merayakan datangnya bulam Muharram sekaligus sebagai ajang pengembangan bakat dan kreatifitas santri.
Tradisi Menjelang Asyura
Di Pesantren, suasana Muharram semakin terasa dan menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu ketika memasuki hari 10 Muharram atau yang dikenal dengan hari Asyura’. Para santri gegap gempita melakukan sunnah dan amaliyah yang dianjurkan pada hari Asyura ini. Tradisi Muharram beraroma pesantren tidak pernah lepas dari bingkai ritual dan spritual ajaran Islam. Secara umum, tradisi Muharram di Pesantren yang hingga kini menajadi Praktik para santri adalah;

  1. Puasa
    Sudah menjedi tradisi pesantren para santri berpuasa tasu’a dan asyura’ pada tanggal 9-10 Muharram. Hal ini bertujuan untuk menjalankan sunnah yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, Muslim dan Ibnu Hibban, bahwa Rosulullah pernah bersabda:

عن أبي قتادة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “صيام يوم عرفة كفارة السنة والسنة التي تليها, وصيام يوم عاشوراء يكفر سنة
“Puasa hari Arafah adalah penglebur (dosa) satu tahun dan tahun setelahnya, dan puasa
hari Asyyura( hari kesepuluh bulan Muharram) mampu mengelebur (dosa) satu tahun”.

  1. Bersedekah
    Sebagaimana aktualisasi di berbagai pesantren, para santri biasanya bersedekah secara tersembunyi sirri kepada kerabatnya, berbagi makanan, bahkan berbagi barang yang masih layak digunakan. Adapun tradisi ini sebegaimana keterengan hadist;

وَمَنْ تَصَدَّقَ فِيْهِ بِصَدَقَةٍ فَكَأَنَّمَا لَمْ يَرُدَّ سَائِلًا قَطُّ
“Barangsiapa yang bersedekah pada hari tersebut (hari Asyura), maka seakan-akan ia tidak pernah menolak orang yang meminta-minta”.

  1. Mandi Sunnah
    Salah satu tradisi santri di Pesantren adalah melakukan mandi sunnah di bulan Muharram. Tradisi ini berdasarkan keterangan hadis;
    وَمَنْ إِغْتَسَلَ وَتَطَهَّرَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَمْرَضْ فِي سَنَتِهِ إِلَّا مَرْضَ المَوْتِ
    “Barang siapa yang mandi (sunnah) dan bersuci pada Asyura (10 hari di bulan Muharrram) maka tidak akan mengalami sakit pada tahun itu kecuali sakit berupa kematian”.
  2. Shalat Sunnah
    Dalam hal ini, shalat sunnah yang dianggap utama afdhal dan sering di praktikkan di berbagai pesantren adalah shalat tasbih. Refrensi anjuran salat sunnah tasbih sebagaimana yang terdapat dalam kitab Sunan Abi Dawud yang diceritakan Oleh Abdurrahman bin Basyar bin Hakam dan dalam kitab Nihayah al-Zain halaman 196.
  3. Memakai Celak
    Memakai celak juga merupakan salah satu tradisi Pesantren, utamnya ketika menyambut bulan Muharram. Hal ini merupakan implementasi bunyi hadis dalam Faidh al-Qodir Juz.VI halaman 106;
    مَنْ اِكْتَحَلَ يَوْمَهُ لَمْ يَرْمُدْ ذَلِكَ العَامَ
    “Barang siapa yang memakai celak pada hari Asyura maka matanya tidak akan mengalami sakit pada tahun itu”.
  4. Menjenguk kerabat yang sedang sakit,
    Sebagaimana anjuran untuk memperbanyak berbuat baik, maka ke-sunnahan menjenguk orang sakit membuat para santri bergiliran menjenguk kawan yang sedang sakit pada ari 10 Muharram ini. tradisi ini merujuk pada keterangan hadis;
    وَمَنْ عَادَ مَرِيْضًا فِي يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَكَأَنَّمَا عَادَ مَرْضَى أَوْلَادِ آدَمَ كُلِّهِمْ
    “Barang siapa yang menjenguk orang sakit pada bulan Asyura maka seakan-akan ia telah menjenguk orang sakit dari keturunan Adam seluruhnya”.
    Demikian beberapa tradisi Muharram yang lazim digalakkan para santri di berbagai Pesantren. Bersamaan dengan banyaknya pesantren di Indonesia, tentu ragam kebudayaan juga telah melahirkan nama tradisi ini berbeda-beda pada setiap wilyahnya. Beberapa pesantren di wilayah tertentu akrab menyebut tradisi ini dengan tajuk asyuronan, Muharraman, Jembaran, Asyura’ Day, Gema Muharram dan lain sebagainya.
    Wal’afwu minkum, Waallahu a’lam bish shawab

Baca juga : Berkorban Demi Qurban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *