Tiga Hal Yang Perlu Diluruskan Tentang Mahbub Djunaidi

(Farhan Nugraha, Pengendara Motor Matic, Ketua PMII Universitas Negeri Jakarta)

Berseliweran ucapan rindu mengenang sosok Mahbub Djunaidi, yang tepat pada hari ini kita ingat sebagai hari dimana ia menghembuskan nafas terakhirnya. Mengenang 25 tahun kepergiannya, tulisan ini akan coba meluruskan pernyataan-pernyataan keliru yang cukup sering beredar seputar Mahbub Djunaidi. Adapun kapasitas penulis adalah sebagai seorang pengagum atas pemikiran dan produk intelektual nya.

1. Mahbub sebagai Pendiri PMII

PMII yang didirikan pada 17 April 1960, adalah buah dari kesepakatan Musyawarah Mahasiswa NU. Musyawarah tersebut diikuti oleh 13 orang yang berasal dari berbagai daerah. Atas kesepakatan bersama, ke-13 orang tersebut kemudian memilih Mahbub Djunaidi sebagai ketua umum. Di saat yang sama, Mahbub tengah menjalankan peran sebagai ketua Departemen Pendidikan PB HMI.

Maka yang lebih tepat dikatakan sebagai pendiri adalah, ke-13 orang peserta musyawarah mahasiswa NU tersebut, yaitu: Chalid Mawardi, Said Budairy, Sobich Ubaid, Makmun Syukri, Hilman, Isma’il Makky, Munsif Nahrawi, Nuril Huda Suaidy, Laily Mansur, Abd. Wahab Jailani, Hisbullah Huda, Chalid Narbuko, dan Ahmad Husain.

2. Mahbub sebagai Anggota DPR tahun 1960 dan 1977

Sejauh penelurusan penulis, Mahbub hanya menduduki kursi anggota DPR/GR dalam satu periode saja, yaitu di tahun 1960-1971. Dalam periode tersebut, Mahbub mengusulkan dan memperjuangkan RUU Ketentuan Pokok Pers. Perjuangan Mahbub berujung dengan diterbitkannya UU No.11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers.

Dalam menyambut pemilu 1977, Mahbub maju sebagai calon anggota legislatif dari PPP. Namun yang menarik, Mahbub mencalonkan diri dari daerah pemilihan Timor Timor, dimana mayoritas adalah konstituen Golkar. Selain itu, mayoritas penduduk Timor Timor adalah beragama kristiani, sehingga mustahil untuk memilih PPP. Bisa dikatakan, mustahil bagi Mahbub untuk dapat lolos kembali menuju gelanggang parlemen. Penulis menyebut ini sebagai kritik Mahbub atas proses penyelenggaraan pemilu kedua di era orde baru.

Saat dirawat di rumah sakit penjara sebagai tahanan politik, Mahbub sempat mengirimkan surat kepada Daryatmo, Ketua DPR. Melalui surat tersebut, Mahbub mengajukan permohonan kepada DPR untuk melakukan perombakan total terhadap sistem pemilu. Dalam surat tersebut, Mahbub sempat menyinggung “… saya bukan anggota DPR apalagi anggota pemerintahan”. Surat tersebut ditulis di Bandung pada tanggal 3 November 1979. Maka pernyataan Mahbub pernah menduduki kursi anggota DPR periode 1977-1982 adalah keliru.

3. Mahbub Tidak Setuju dengan Konsep Khittah NU

Khittah plus adalah sebuah konsep yang menjadi pembahasan utama dalam Konbes NU di Cilacap tahun 1987. Khittah plus adalah reaksi dari keputusan NU kembali ke khittah 1926 pada Muktamar di Situbondo tahun 1984. Kembali nya NU ke khittah 1926, menjadikan NU sebagai organisasi agama-sosial dan kemasyarakatan. NU dengan resmi keluar dari kegiatan politik praktis termasuk dalam keanggotaan PPP.

Tetapi, Mahbub tidak sepenuhnya menolak konsep Khittah 1926. Apalagi Mahbub pernah menjadi anggota tim tujuh pemulihan Khittah 1926 sebelum pelaksanaan Munas Alim Ulama tahun 1983. Tim tujuh adalah perumus khittah 1926, hingga kemudian konsep khittah tersebut diresmikan pada Muktamar ke-27 di Situbondo.

Dengan demikian, Mahbub juga merupakan salah seorang yang berperan dibalik perumusan konsep khittah 1926. Apalagi, disaat yang sama Mahbub dan elit NU di PPP juga tengah jengah oleh kehadiran Jailani Naro sebagai ketua umum PPP. Hal tersebut berujung pada penggembosan internal PPP oleh Mahbub Djunaidi dan tokoh-tokoh NU lainnya.

Khittah plus adalah buah pemikiran Mahbub Djunaidi atas pembacaannya melihat realita bahwa NU memiliki basis massa yang cukup besar. Namun khittah 1926 juga sejalan dengan keinginan Mahbub agar NU tidak lagi hanya sebagai penyumbang suara di PPP.

Teruntuk Mahbub Djunaidi, Alfatihah.
Jakarta, 1 Oktober 202


Jika ada kekeliruan dalam tulisan ini, penulis sangat terbuka untuk segala kritik dan saran. Penulis dapat dihubungi melalui,
surel: farhan_nugraha@outlook.com
instagram: @fanugg

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*