Opini Public Figure

SPY SI, Inspirasi Bagi Kaum Muda

(Oleh: Khairi Fuady)

Dalam momentum Hari Sumpah Pemuda, saya mengkhatamkan satu buku yang berjudul “SPY SI, Sedikit Pengalaman yang Saya Ingat”, karya Prof. Dr. AM. Hendropriyono. Buku tersebut berkisah tentang sejumlah pengalaman Sang Jenderal dari masa kecilnya, lalu beranjak remaja, hingga dewasa. Melewati berbagai macam peristiwa dalam hidup, menjadi pejuang dan patriot, dan terlibat dalam pergulatan dan pergolakan politik nasional.

Prof. Hendropriyono yang saya kenal adalah seorang tokoh senior, namun bergaya necis, parlente, flamboyan, dan semangatnya selalu muda. Sampai kita yang masih seumur jagung dan anak kemarin sore ini kerap ‘ciut‘ dengan semangat dan besarnya kecintaan beliau pada negeri.

Yang istimewa dari sosok Prof. Hendropriyono adalah cara pandang beliau yang selalu menghadirkan kebaruan. Terutama dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa dan memberikan pemikiran strategis. Pantas lah jika beliau dinobatkan sebagai Profesor pertama di dunia di Bidang Filsafat Intelijen.

Dalam dunia telik sandi, nama beliau masyhur di urutan teratas. Diperbincangkan, didiskusikan, dan menjadi referensi utama bagi para ilmuan sosial, politik, hukum, dan intelijen. Beliau juga seniman yang produktif menulis lagu dan bernyanyi. Salah satu lagu yang paling saya suka judulnya “Kumis“. Heheheeee.

Dalam buku “SPY SI” yang beliau tulis, ada satu sub bab khusus yang berjudul “Kecewa pada Kelompok Islam Politik”. Kekecewaan itu beliau sampaikan lantaran dalam catatan sejarah dari pemberontakan DI/TII dan lain-lain, kelompok Islam Politk kerap kali menjalin kerjasama dengan musuh negara, atas legitimasi kaidah “Our Enemy’s enemy is our friend”. Alhasil kita semua jadi korban adu domba dan bertikai antar sesama anak bangsa.

Oleh karena itu beliau menegaskan bahwa negara kita lahir atas dasar Pancasila sebagai kesepakatan dari para pendiri bangsa. Prof. Hendropriyono menyebutkan bahwa Indonesia adalah “Darussalam” dan “Al Mitsaq Al Wathani”, bukan “Darul Islam” ala Kartosuwiryo.

Alhasil, hemat saya bab di atas perlu di-highlight dan digaris tebal, sebab belakangan politisasi agama semakin menguat dan mengisi panggung politik kita. Terpilihnya sejumlah pemimpin di dunia yang menggunakan kampanye SARA, membuat sejumlah politisi menjadi kalap mata untuk melakukan hal yang sama; Kristalisasi Polarisasi Agama.

Untuk kepentingan elektoral jangka pendek boleh jadi hal ini ampuh karena cara kerjanya menyentuh sisi paling emosional dari umat manusia, yakni Faith. Iman atau Keyakinan. Namun dalam kepentingan untuk merawat kehidupan dan kemanusiaan, politisasi SARA jelas adalah sesuatu yang destruktif dan meninggalkan “legacy” yang suram untuk umat manusia.

Maka janganlah hanya karena kepentingan temporer, kita merusak tatanan peradaban dan menjadikan generasi penerus sebagai korban keserakahan kita untuk eksis dan berkuasa. Sejumlah pemimpin yang terpilih atas agitasi, propaganda, dan politisasi SARA, boleh jadi hari ini dianggap sebagai Pemenang. Namun di masa depan, mereka akan tercatat sebagai Pecundang. Dan anak-cucu mereka, menanggung beban sebagai para penonton cemberut di Panggung Sejarah.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2020. Terima kasih Ayahanda Prof. Dr. Hendropriyono atas hadiah bukunya.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *