Siapakah Sejatinya Pemenang Pilkada

(Oleh: Muhammad Radini, Wakil Ketua PWNU Kalsel)

Tulisan ini di buat setelah beberapa hari yang lewat bertemu mursyid saya abang bulgonun amir hasbullah di Jakarta, setelah beliau ditemui berbagai calon kepala daerah dari berbagai provinsi dan kabupaten di Indonesia.

Terdorong dari rasa ingin menyampaikan pesan tersebut maka tulisan ini di buat. Pesan ini dalam bentuk pertanyaan bathin yang mengusik saya untuk menjawab dalam tulisan singkat ini.

Pertanyaan beliau apakah kepala daerah yang terpilih nanti pada saat 9 desember 2020 adalah terpilih atau sudah di pilihkan. Rasanya pertanyaan ini sangat sederhana namun mengandung jawaban yang dapat mengukur sejauh mana keimanan kita kepada Allah SWT.

Kalau kita menjawab bahwa kepala daerah terpilih maka siapakah yang memilih apakah kita sebagai rakyat, partai politik, tim sukses, atau pemodal yang menggelontorkan dana besar untuk seorang calon.

Padahal variabel-varieabel yang jelas untuk mengukur tersebut baru bisa di baca setelah selesai pemilukada atau setelah pemilihan itupun masih banyak rahasia yang tidak terungkap secara nyata, lalu siapa yang membangun semua skenario hebat tersebut sehingga si calon menjadi pemimpin?

Yang kadang aneh-aneh saja apabila kita melihat fenomena pemilukada. Ada calon yang sama sekali tidak populer namun terpilih, ada calon yang tidak memiliki modal yang cukup juga terpilih, bahkan ada calon yang sama sekali tidak mau jadi calon namun di paksa oleh orang lain yang otomatis dia sendiri tidak memiliki keinginan pun bisa terpilih.

Semua anomali-anomali yang terjadi baik dalam proses dan hasil dalam pemilukada tersebut menandakan bahwa ada sesuatu di luar jangkauan manusia untuk mengatur hal itu semua.
Sehingga kita akan tetap bertanya apa benar pemimpin terpilih itu di sebabkan oleh tangan-tangan manusia saja.

Dan apabila kita menyakini semua yang kita rencanakan dan kita jalankan dalam strategi pemenangan adalah satu-satunya cara untuk menang dan kebetulan saat itu menang, maka kita dengan bangganya mengatakan inilah kehebatan strategi yang telah di buat dan di jalankan.

Namun bila dengan materi dan pendanaan yang melimpah lalu seorang terpilih maka kebanggannya yang muncul akan sebuah kemenangan tersebut berasal dari duit yang di keluarkan. Begitupun apabila si calon memang lebih dahulu populer maka dengan bangganya dia mengatakan sebab kemenangan tersebut adalah karena popularitasnya.

Dari beberapa sebab-sebab yang terlihat tadi maka dengan pongahlah kita bisa mengatakan dengan mudah bahwa kemenangan ini di sebabkan oleh factor A, B, bahkan sampai Z namun lupa skenario yang terbentuk adalah rajutan-rajutan rumit yang disatukan oleh kekuatan yang maha besar. Dan para pengamat dengan mudahnya mencocok-cocokakn semua variebel-variabel tersebut seolah kesimpulannyalah yang bisa menggambarakan dengan jelas proses dan hasil sebuah pemilukada.

Terpilihnya pemimpin dalam kontestasi pemilukada sebenarnya tanpa disadari menimbulkan klaim-klaim yang menghancurkan nilai manusia itu sendiri sebagai seorang hamba. Betapa tidak, pendukung, partai politik, konsultan, pemodal, bahkan calonnya sendiripun merasa merekalah yang telah memenangkan pemilukada ini.

Dan lebih pahitnya calon kepala daerah dan pendukungnya yang kalah meratapi semuanya dengan perih lalu seolah-olah kegagalan dalam pemilukada ini disebabkan sedikitnya dukungan, partai poltik yang tidak solid, strategi konsultan yang tidak tepat, modal yang sedikit dan banyak hal lagi yang lain yang menjadikan sama sekali tidak hadirnya Tuhan dalam setiap peristiwa, padahal baik yang menang maupun yang kalah sama-sama menjual Tuhan dalam meraih simpati dukungannya.

Namun bila kita mau lebih cermat melihat pada Al Qur’an bagaiamana kekuasaan itu di pilihkan oleh Allah sendiri terutama dalam QS Al Imran Ayat 26 yang berbunyi: “Katakanlah; Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, engkau berikan kepada orang yang engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang engkau kehendaki dan engkau hinakan orang yang engkau kehendaki. Ditangan engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya engkau Maha kuasa atas segala sesuatu”.

Dari ayat tersebut bagaiamana kita bisa mengklaim kemenangan maupun kekalahan dalam pemilukada adalah semua dari akibat perbuatan dan tindakan kita semata, namun penting pula di garis bawahi bahwa kemuliaan dan kehinaan tersebut bukanlah semata dari terpilih atau tidak terpilihnya seseorang pemimpin dalam pemilukada.

Bisa saja kemenangan dalam pemiluka tersebut apabila kita lupa diri, malah inilah awal dari kehinaan-kehinaan yang datang silih berganti tetapi sebaliknya kekalahan yang di terima dengan lapang dada dan penuh penghayatan bahwa Allah sebaik-baik pemberi ketetapan maka bisa jadi awal mula Allah memberikan kemuliaan terus menerus tiada putus padanya.

Sebagai seorang manusia yang beriman kepada Allah SWT maka sangat jelas panduan yang yang diberikan kepada kita dalam menyikapi segala ketetapan takdir Allah SWT. Di dalam Al Qur’an surat Al Hadiid ayat 22-23 yang berbunyi : “setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh), sebelum kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu bergembira terhadap apa yang diberikanNYA kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri”.

Bila kita meresapi ayat tersebut sungguh telah jelas ada blue print perjalanan hidup kita dari lahir sampai nanti kita mati. Sehingga ringkasnya kemenangan yang nanti di dapat dalam pemilukada baik bagi pasangan calon kepala daerah, partai politik, pemodal, dan pendukung maka berbahagialah seperlunya, begitupun bagi yang kalah maka bersedihlah seperlunya karena yang demikian sungguh manusiawi. Namun Allah denga tegas melarang sombong dan membanggakan diri.

Ketika kita menyadari bahwa ada cetakan blue print yang jelas dari Tuhan tentang takdir manusia, takdir bangsa ini, dan takdir daerah ini. Ketika kepemimpinan datang silih berganti, yang berkuasa dan kaya raya pun berganti, dan rakyat sebagai penentu demokrasi pun tidak lepas silih berganti. Lalu apa yang pasti? Selain Tuhan itu sendiri yang mengatur dengan jelas hitam putihnya sebuah catatan sejarah manusia. untuk itu tetaplah sebagai hamba Allah apapun nanti hasilnya. Dengan cara menerima semua ketetapan Allah SWT tanpa terkecuali.

Yakinlah pemenang pemilukada telah di pilihkan oleh Allah SWT jauh sebelum pemilihan itu terjadi. Namun tetaplah berjuang karena itu adalah perintah Allah itu sendiri, apapun hasilnya berbanggalah bahwa kita telah menorehkan catatan sejarah berupa ikhtiar terbaik dalam bentuk ijtihad politik yang bernilai ibadah. Selamat berkontestasi dan selamat bertanding para calon kepala daerah, tim sukses partai politik, donator pemilukada, dan relawan pendukung murnikanlah niat untuk kebaikan rakyat dan daerah. Karena sehebat dan sekuat apapun kekuasaan yang kita miliki saat ini tidak pernah lebih hebat dari seorang Fir’aun yang pada akhirnya pun akan tumbang juga.

Baca juga : Ihwal Program Bank Jangkar

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*