Nasional

PMII, Warisan Para Legenda

(Oleh: Khairi Fuady, Pengurus PB PMII)

PMII punya dua orang maestro yang hingga hari ini namanya terus hidup, dan diakui sebagai legend. Keduanya pernah memimpin organisasi ini pada posisi puncaknya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (dulu namanya Pengurus Pusat). Pertama adalah Almarhum Almaghfurlah Haji Mahbub Djunaedi. Kedua adalah Almarhum Almaghfurlah Al Habib Muhammad Iqbal bin Husein As Saqof/Assegaf. Satu-satunya Ketua Umum PMII dari kalangan Bani Alawiy, Ahlul Bait Rasul SAW.

Haji Mahbub tersohor dengan julukan Pendekar Pena, sebab tulisan-tulisannya yang tajam, satir, dan unpredictable. Konten dan diksinya selalu tidak umum, sehingga di forum-forum jurnalisme hingga kini, namanya selalu menjadi topik perbincangan. Sedangkan Habib Iqbal adalah seorang penggerak dan konsolidator. Wajar ketika Habib Iqbal purna dari amanahnya memimpin PMII, ia kembali dipercaya oleh anak-anak muda NU untuk memimpin Gerakan Pemuda (GP) Ansor.

Dua nama di atas, jika digabungkan tipologi dan karakternya, maka akan dahsyat. Melahirkan sebuah gambaran ideal dari potret seorang pemimpin. Sebab kata Guru Bangsa Haji Omar Sahid Tjokroaminito: “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulis lah seperti wartawan, dan bicara lah seperti orator”. Demikian pesan Sang Guru, yang kepadanya pernah belajar seorang pemuda bernama Sukarno, Semaoen, dan juga Kartosuwirjo. Satu guru beda ilmu, satu pabrik beda produk.

Sekarang, di tengah riuh-rendah perdebatan di jagad maya, tentang apa itu buzzer, apa itu influencer, dan juga spin doctor, rasa-rasanya kader PMII perlu mengingat-ingat kembali tentang sejumlah legacy yang ditinggalkan para pendahulunya. Hal ini penting agar para kader yang ditempa melalui serangkaian Kaderisasi Formal dari Mapaba hingga Pelatihan Kader Lanjut (PKL) bahkan Pelatihan Kader Nasional (PKN), jangan sampai menjadi disorientasi lantaran derasnya arus perkembangan.

Memang dulu ketika usia kita masih belia, jika ditanya oleh Bu Guru di sekolah tentang apa cita-cita kita, akan lahir jawaban-jawaban standar seperti “Aku ingin jadi Dokter, Pilot, Guru, Polisi, Tentara, dan juga Pemain Bola”. Tapi hari ini, ragam profesi tersebut bukan lagi yang utama. Sebab di tengah disrupsi informasi dan digitalisasi ini, muncul varian profesi baru yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Misalnya jadi Content Creator, Gamer, Youtuber, dan juga Social Media Influencer. Fenomena ini lah yang sejatinya hari ini tengah men-challenge kader-kader PMII secara umum di semua tingkatan.

Beruntung sebagai anak muda NU, selain berpegang kepada Al Quran dan As Sunnah, kita juga dibekali sebuah kaidah pamungkas: “Al muhaafazhah ‘alal qadiim al shaalih, wal akhdzu bil jadiid al ashlah”. Menjaga hal-hal baik di masa lalu, serta membuka diri untuk hadirnya inovasi dan kreatifitas.

Oleh karena itu, pada momentum jelang Kongres PMII yang akan digelar pada tanggal 17 Maret mendatang, mari kita luangkan waktu untuk membuka kembali lembaran sejarah. Sebab untuk menghadirkan “jiwa” pada setiap derap langkah perjuangan yang kita tempuh, kira perlu merujuk masa lalu agar tak buta menatap hari depan.

Kita punya Ahlus Sunnah Wal Jamaah sebagai pijakan, Pancasila sebagai dasar, serta Nilai Dasar Pergerakan (NDP) yang prinsip-prinsipnya kita pegang dan amalkan dalam menjalani proses belajar di ruang akademik dan di medan tempur dunia aktivis. Artinya, modalitas kita kokoh dan asal-usul kita kuat. Kita adalah anak-anak panah yang melesat dari busur yang ditarik kencang oleh orang tua-orang tua kita di Nahdlatul Ulama (NU). Sebagaimana ilustrasi yang pernah digambarkan oleh Khalil Gibran, tentang anak-anak zaman yang sejatinya adalah putera-puteri Sang Fajar.

Alhasil, PMII bukan organisasi kacangan. Bukan anak bawang atau pemain cadangan yang sesekali berlaga di lapangan. PMII adalah pemain utama, main player, pada setiap patahan-patahan sejarah aktivisme yang mengiringi perjalanan bangsa ini. PMII adalah warisan para legenda, sehingga semangat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, senantiasi menyertai proses belajar kita semua.

“Habislah sudah masa yang suram, selesai sudah derita yang lama”.


Wallaahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *