Artikel

Pemuda Mau Kemana?

Oleh: Rizal Abdillah, Komisariat PMII Tebuireng

Berbicara pemuda tentu yang ada dalam pikiran kita adalah tentang semangat dan kreatifitas. Yusuf Qordlawi menjelaskan, “Pemuda jika diibaratkan seperti matahari yang bersinar terang di siang hari“. Namun, menjadi sebuah pertanyaan, “Siapa yang dimaksud dengan pemuda?“. Dalam UU dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan pemuda adalah warga Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 sampai 30 tahun. Sebelum dan sesudah usia tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai pemuda.

Terdapat sebuah adagium yang berbunyi, “Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan“. Adagium tersebut selaras dengan sabda Rasulullah Saw, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya“. Tanggung jawab pemuda sungguhlah berat, karena masa depan bangsa berada ditangannya.

Terkhusus bagi pemuda Indonesia. Negara memberi amanat kepada para pemuda untuk berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam aspek pembangunan nasional. Sebagaimana yang telah termaktub dalam UU nomor 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan. Sejarah telah mencatat peran pemuda dalam catatan sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Dari sekian banyak peran pemuda, setidaknya ada dua peran krusial pemuda menurut Hasyim Wahid (Tanpa menafikan peran-peran yang lainnya). Pertama, Sumpah Pemuda. Kedua, Proklamasi Kemerdekaan.

Sumpah Pemuda adalah sejarah penting peran pemuda. Yang mana pada saat itu para pemuda mendeklarasikan pada dunia ‘Inilah Bangsa Indonesia (The Nation of Indonesia)’. Sumpah Pemuda ini didasari oleh pergeseran konstelasi Geo-politik pasca PD-I. Sehingga para pemuda saat itu berkumpul dan berkonsensus.

Dan selanjutnya Proklamasi Kemerdekaan. Proklamasi Kemerdekaan ini didasari oleh usainya PD-II yang ditandai dengan kalahnya poros AXIS (Jerman, Italia, dan Jepang). Sehingga para proklamator berkumpul merumuskan dan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia (Nation State of Indonesia). Sejarah penting ini terdapat andil dari para pemuda. Masih banyak lagi peran pemuda dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Lalu bagaimana dengan Pemuda saat ini?

Pemuda hari ini sudah terlalu sibuk dengan kegiatannya seperti game, hangout sana sini, dan terbenam dalam lautan kasmaran. Dengan dalih, “Negara sudah ada yang mengurus, jadi buat apa ikut mengurus negara“. Tentu tidak semua pemuda seperti itu, dan tentunya semua itu tidak sepenuhnya salah. Kami (Pemuda) hanya perlu diberi arahan dan bimbingan saja.

Semisal kebiasaan pemuda yang suka main game hingga lupa waktu. Lagi-lagi mereka tak sepenuhnya salah. Mereka hanya perlu diarahkan dan dibimbing. Kebiasaan yang dianggap buruk, bila diarahkan akan menjadi baik. Contoh nya Rizky Faidan yang jadi juara diajang PES (Pro Evolution Soccer) League 2019 Asia kategori 1v1, dan masih banyak lagi pemuda yang mengharumkan nama bangsa melalui kebiasaannya main game.

Kegiatan pemuda yang dianggap buruk lainnya adalah Kasmaran. Dimasa mudalah manusia merasakan pertama kali jatuh cinta dan pertama kali juga merasakan putus cinta. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan dua insan yang saling mencintai. Hanya perlu diarahkan saja. Orang jatuh cinta itu memiliki energi yang fantastis, begitu juga dengan orang yang putus cinta. Energi tersebut harus diarahkan kearah yang positif. Semisal orang yang sedang jatuh cinta tiba-tiba menjadi puitis, padahal sebelumnya tidak sama sekali. Bisa memanfaatkan energi tersebut untuk membuat buku antologi puisi cinta.

Bahkan orang yang sedang putus cinta pun energinya harus diarahkan kearah positif, dari pada harus memanjat sutet atau meminum obat nyamuk untuk meregang nyawa. Seperti yang dilakukan salah seorang senior saya. Ketika putus cinta ia mampu menuliskan tiga buku sekaligus. Jadi, sekali lagi, kami (pemuda) hanya perlu diarahkan dan dibimbing saja.

Sebenarnya banyak cara yang bisa dilakukan pemuda untuk menentukan masa depan bangsa. Para pemuda tinggal membekali dirinya dengan keterampilan. Wagner menjelaskan ada tujuh keterampilan hidup yang dibutuhkan saat ini, yaitu; (1) kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, (2) kolaborasi dan kepemimpinan, (3) ketangkasan dan kemampuan beradaptasi, (4) inisiatif dan jiwa entrepreneur, (5) kemampuan berkomunikasi efektif, (6) mampu mengakses dan menganalisa informasi, dan (7) memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi.

Semoga bisa menjadi bahan refleksi kita bersama sebagai generasi penerus bangsa. Teringat pesan dari Soesilo Ananta Toer, “Kehebatan manusia itu bukan terletak pada kekuasaannya, uangnya, keberhasilannya, melainkan pada kemerdekaan pribadinya. Dan, kebebasan utuh seorang manusia terletak pada pikirannya, yang tidak dikendalikan, dipenjara, atau diperbudak siapa pun dan apa pun“.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *