PEMBELAJARAN DI ERA PANDEMI; FLIPPED LEARNING DENGAN PENDEKATAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOCAL

(Dewi Anggraeni, Aktif mengajar di UNUSIA Jakarta, Universitas Negeri Jakarta dan Ma’had Aly As-Shidiqiyah Jakarta)

Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang sangat signifikan dalam semua aspek kehidupan manusia termasuk dalam dunia Pendidikan. Tantangan yang dihadapi dalam dunia Pendidikan sebabagai dampak dari covid -19 adalah proses pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau daring, dimana para pendidik dituntun untuk dapat menguasai Teknologi Komunikasi dan Informasi (TIK).

Pendidik di masa pandemic dituntut untuk dapat menguasai berbagai media pembelajaran sebagai sarana proses pembelajaran secara daring. Setidaknya bagaimana guru-guru mampu memanfaatkan (TIK) dalam proses pembelajaran, serta bagaimana guru-guru dapat mengembangakan kompetensi dirinya melalui pembuatan berbagai media pembelajaran yang dapat digunakan sebagai pendukung kegiatan belajar mengajar.

Pendidik dituntut untuk memilki kecapakan di era revolusi industry, tidak hanya sebatas kompetensi pedagogis, professional, dan social tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan zaman. Pandemi Covid-19 memberikan peluang bagi siap pun untuk berinovasi dan berkreasi dalam menciptakan berbagai media serta konten pembelajaran.

Faktanya, masih banyak guru-guru yang belum familiar dengan berbagai media pembelajaran online yang dapat digunakan pada proses pembelajaran daring. Kebutuhan ini yang akhirnya mengundang berbagai workshop online dan webinar yang banyak diselenggarkan pada masa pandemic untuk memenuhi kebutuhan para pendidik dalam menggunakan berbagai media pembelajaran serta mendesain pembelajaran secara daring.

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di masa pandemic dengan secara daring menjadi tantangan tersendiri khususnya bagi generasi Z. Generasi ini terbiasa menyederhanakan gambaran tentang dunia yang begitu kompleks ke dalam layar smartphone yang dapat diklik dengan mudah untuk menemukan ‘apapun yang dibutuhkan’. Laporan We Are Sosial menyebutkan bahwa pada Januari 2020 ada 175,4 juta (64%) dari total populasi yang berjumlah 272,1 juta yang memiliki akses terhadap internet yang didominasi penggunaan media sosial.

Salah satu problem generasi Z adalah memperoleh sesuatu dengan ‘instan’ sehingga membuat minimnya literasi yang hanya mengandalkan informasi dari satu sumber atau media sosial yang lebih mudah untuk mereka akses. Hal ini yang kemudian dalam pembelajran agama Islam sangat rentan dalam memicu sikap-sikap intoleran. Untuk mengcounter berbagai macam konten keagamaan yang dapat diakses di media sosial sebagai penunjang proses pembelajaran perlu peran pendidik untuk memilah dan memilih mana yang sesuai dengan nilai-nilai keindonesiaan dan cerminan Islam yang rahmatan lil alamin.

Maka disinilah diperlukan kerativitas para pendidik untuk dapat memberikan konten pembelajaran Agama Islam yang moderat dengan memasukan nilai-nilai kearifan local. Tentunya nilai-nilai kearifan local tidak hanya termuat dalam pembelajaran Agama Islam melainkan berbagai mata pelajaran dapat dintergrasikan dengan wawasan kebangsaan, multikulturalime, serta tradisi-tradisi yang ada di Nusantara sebagai salah satu karakteristik bangsa Indonesia. Pembelajaran pada masa pandemic yang dilakukan secara daring dengan memanfaatkan TIK sebagai media perlu juga untuk memperhatikan konten atau muatan yang mengandung nilai-nilai kearifan local.

Flipped learning sebagai sebuah model pembelajaran terbalik yakni, aktivitas pembelajaran dilakukan dengan memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mempelajari dan mengakses berbagai macam informasi mengenai materi yang dipelajari dan melakukan aktiviats pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai macam sumber sehingga membukakan wawasan dan pengetahuan serta keterampilan para siswa dengan menerapakan discovery learning.

Dengan kata lain, bahwa peserta didik memiliki pengetahuan mengenai materi yang dipelajari sebelum masuk ke ruangan kelas. Dalam situasi pendemi ini, flipped learning dapat dilakukan dengan mengakses berbagai media belajar yang tersedia secara digital, seperti rumah belajar, atau dengan mendesain pembelajaran dengan membuat video, serta membuat diktat hyperlink yang kaya akan konten.

Flipped leraning dapat menjadi salah satu alternative yang dapat diguakan dalam proses pembelajaran di masa pandemic guna meningkatan kompetensi pendidik, yang inovatif serta membukakan wawasan sebagai pendidik di era revolusi industry. Bagi peserta didik, flipped learning sebagai sebuah upaya pemebelajaran mandiri (student discovery) yang dapat mengakses berbagai macam pengatahuan dari sumber belajar yang yang beragam.

Dalam proses pembelajaran mandiri pendidik nampaknya perlu untuk memasukan nilai-nilai kebangsaan dan kearifan lokal sehingga tidak terjerumus kepada kebenaran sepihak yang akan menumbuhkan benih-benih intolerenasi. Sebagaimana pendidikan tidak hanya terkait dengan aspek transfer of knowledge, tetapi juga terkait aspek yang lebih luas, yakni aspek perubahan nilai dan pandangan hidup.

Dengan demikian, melalui pembelajaran yang dilakukan secara online diharapkan dapat terjadi perubahan secara mendasar pada aspek moralitas, budaya, kesejahteraan, dan sebagainya , baik di ranah formal atau informal. Sehingga pembelajaran online tidak hanya sebatas memperhatikan bahwa materi pemebelajaran dapat diterima dengan baik, tetapi juga perlu diperhatikan bagaimana muatan media pembelajaran yang di desain oleh pendidik sejalan dengan wawasan kebangsaan dan keindonesiaan sehingga tidak terjerumus kepada pemahaman yang bertentangan dengan ideology dan kebenaran sepihak yang mudah menyalahkan, serta dapat meredam sikap-sikap intoleran.
.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*