Nasional Opini

Para Penumpang Gelap Yang Semakin Kalap

(Oleh: Khairi Fuady, Pemikir Kebangsaan)

Terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat diramalkan akan berimplikasi kepada menguatnya isu Demokrasi dan HAM di dunia. Sebab sepanjang perjalanan sejarah, Democratic Party di Amerika Serikat memang memberikan konsen khusus terhadap dua isu di atas.

Ada kaitannya atau tidak, tempo hari Benny Wenda, aktivis Kemerdekaan Papua dari The United Liberation Movement of West Papua (ULMWP), mendeklarasikan pemerintahan sementara Papua Barat dan mendaulat dirinya sendiri sebagai Presiden.

Sementara itu, di sudut yang lain, diskursus tentang Populisme Islam kembali menguat menyusul kepulangan Imam Besar FPI, Al Habib Rizieq bin Husein Shihab. Sejumlah peristiwa sontak menjadi polemik karena meninggalkan fenomena di lapangan yang mengakibatkan kerumuman. Di antaranya adalah penjemputan beliau di Bandara Soekarno Hatta, lalu Walimah Puteri Sang Imam di Petamburan, dan juga kegiatan silaturahim di Megamendung.

Bertambah rumit lagi ketika pasca kegiatan-kegiatan tersebut Al Habib dirawat di Rumah Sakit, dan terjadi polemik yang sudah jamak diketahui masyarakat. Sialnya, nampaknya para pengikut Al-Habib menjadi kalap dan semakin tak terkontrol. Sejumlah jamaah dari banyak titik tiba-tiba menyerukan “Hayya Alal Jihad” yang disisipkan sebagai pengganti “Hayya Alas Shalaah” pada redaksi Adzan.

Belum lagi orkestrasi kesombongan dan arogansi sejumlah jamaah di Madura yang berdemonstrasi di kediaman Menkopolhukam Mahfud MD, yang secara langsung menjadi semacam teror terhadap Ibunda dan keluarga besar Prof. Mahfud.
Sampai-sampai Sang Menteri tak kuasa menahan diri untuk menuliskan cuitan:

“Saya selalu berusaha menghindar untuk menindak orang yang menyerang pribadi saya karena khawatir egois dan se-wenang2 karena saya punya jabatan. Saya siap tegas untuk kasus lain yang tak merugikan saya. Tp kali ini mereka mengganggu ibu saya, bukan mengganggu Menko-Polhukam”, cuitnya.

Gayung bersambut, peristiwa ini langsung direspon keras oleh seorang Jenderal Flamboyan, Prof. Dr. A. M. Hendropriyono. Beliau mengatakan, “Saya ingatkan kepada para ananda yang berdemo ke rumah kediaman keluarga Bapak Mahfud Md. Dalam keadaan tersebut, hukum kita, di pasal 48 dan 49 KUHP, memberikan kelonggaran kepada yang diserang untuk melalukan pembelaan diri karena terpaksa. Bahkan hukum kita membenarkan jika pembelaan tersebut sampai melampaui batas,” tegas beliau.

Artinya, ada situasi di masyarakat yang menunjukkan indikasi kepada potensi disintegrasi, lantaran ulah para penumpang gelap yang semakin kalap. Mengapa saya sebut penumpang gelap, sebab mereka ini, baik kelompok Far Right (Ekstrim Kanan) dan Far Left (Ekstrim Kiri), adalah orang-orang yang juga ikut menghirup udara segar demokrasi, namun tak kunjung surut berbuat gaduh di atas tanah Ibu Pertiwi.

Padahal bangsa kita saat ini, begitu pun banyak negara yang lain, sedang berada pada perjuangan bersama melawan Covid 19, sekaligus ikhtiar bangkit dalam kesulitan ekonomi yang disebabkan olehnya. Oleh sebab itu Presiden Jokowi mencanangkan Empat Fokus Kebijakan dalam APBN 2021, yakni Penanganan Kesehatan, Perlindungan Sosial, Pemulihan Ekonomi, dan Reformasi Struktural.

Sejumlah langkah dan rencana kebijakan di atas adalah bukti keseriusan negara, dalam hal ini pemerintah dalam mengurai satu per satu persoalan krusial yang sedang menimpa bangsa ini. Namun mereka yang kita sebut para penumpang gelap tadi, justru memaksa kita untuk terus-terusan tenggelam dalam stagnasi perdebatan ideologis dan politik aliran yang melelahkan.

Akhirnya, bangsa ini seolah menjadi bangsa yang tak kunjung move on, sebab luka yang begitu dalam dihasilkan oleh polarisasi akibat kontestasi politik baik itu pilpres, pilkada DKI, dan pergerakan kelompok separatis yang semakin menjadi-jadi.

Alhasil, ada baiknya di penghujung tulisan ini, kita renungi lagi sebuah ujaran reflektif dari pendiri bangsa, Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno:

“Andai kau tahu. Pancasila kami bentuk dengan darah dan air mata. Semua itu semata-mata agar kalian tak berkelahi, Anakku…”.

Sekian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *