Nasional

NU Dan Pertanian Kita

(Harvick Hasnul Qolbi, Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia)

Pada 19 Muharram 1363, Hadratus Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ary menulis sebuah artikel pada majalah Soeara Moslimin Indonesia dengan judul “Keoetamaan Bertjotjok Tanam dan Bertani”, lalu dijabarkan di bawahnya dengan tulisan “Andjoeran Memperbanyak Hasil Boemi dan Menjoeboerkan Tanah, Andjuran Mengoesahakan Tanah dan Menegakkan Keadilan”.

Hadratus Syaikh menjelaskan bahwa petani adalah benteng terakhir bagi pertahanan negeri. “Bapak Tani adalah Goedang Kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperluan. Pa’ Tani itoelah penolong negeri. Pa’ Tani itu djoega menjadi sendi tempat negeri disandarkan”, tulis beliau almaghfurlah.

Hal tersebut di atas menjadi legitimasi sejarah dan ilmiah, bahwa antara NU dan Pertanian adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Hadratus Syaikh yang tersohor dengan adagium “Hubbul Wathon minal iman“, cinta tanah air adalah sebagian dari iman, maka salah satu cara untuk mewujudkan kecintaan pada negeri adalah dengan memberikan atensi besar pada petani dan juga sektor pertanian. Sebab, tidak akan bisa terwujud National Resilince (Ketahanan Nasional), jika tidak ditopang dengan Food Resilience (Ketahanan Pangan).

Lebih-lebih, mayoritas warga NU adalah petani dan nelayan, dengan basis utama di pedesaan. Maka sudah barang tentu, ikhtiar memajukan sektor pertanian, secara tidak langsung akan berefek positif pula pada kemajuan warga NU.

Suka Cita Harlah NU

Hari ini, warga NU se-dunia sedang bersuka-cita dalam peringatan 95 tahun Hari Lahir Nahdlatul Ulama. Ini bukan waktu yang singkat. Sudah tak terhitung peluh, tangis, dan darah dari para pendiri NU dalam ikhtiar merawat dan menjaga bangsa ini. Hingga usia jam’iyah ini sampai pada 5 tahun menjelang usia 1 Abad Nahdlatul Ulama.

NU dan Pertanian adalah sebuah topik yang vital dan krusial. Maka dalam momentum Harlah ini, mari kita tunjukkan suka-cita kita dengan memberikan atensi kepada para petani dan sektor pertanian. Warga NU penting untuk kita dorong bersama melek terhadap inovasi pertanian, teknologi pertanian, Integrated Farming (Pertanian Terintegrasi), juga Pertanian Berbasis Korporasi dan Industri Kerakyatan.

Jika hal tersebut di atas digenjot dan digalakkan dengan massif, insyaallah proses perjalanan NU menuju abad 2 akan semakin cerah, dan Indonesia akan terus mendapat keberkahan dari eksistensi Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) dan juga jamaah kulturalnya. Sebab, menjaga NU adalah menjaga Indonesia. Memajukan NU, memajukan Indonesia. Wallaahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *