Opini

Muhammad Saw. Sosok Paripurna; Pemimpin Agama dan Negara

Solusi

(Oleh: Harvick Hasnul Qolbi, Bendahara PBNU)

Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. adalah kesempatan bagi kita untuk membuka kembali lembaran sejarah, kisah tauladan, dan menyelami samudera kearifan Sang Nabi. Beliau yang di usia belia dikenal dengan julukan “Al-Amin”, yang Terpercaya, lantaran kejujuran dan integritasnya dalam mengelola bisnis yang diamanahkan seorang Saudagar Kaya, Khadijah Binti Khuwailid.

Kelak, bos atau majikan beliau itu lah yang teramat beruntung untuk akhirnya dipersunting menjadi pendampingnya. Muhammad muda bersanding dengan Khadijah untuk mengucap janji suci, dan mengayuh bersama biduk rumah tangga. Menjalani kehidupan dengan segala kompleksitas tugas yang diamahkan oleh Allah kepada Rasul-nya.

Khadijah lah supporter sekaligus sponsor utama aktivitas dakwah Nabi, sehingga dakwah Islam bisa ditopang oleh sebuah sokongan finansial yang kuat dan mandiri. Khadijah pula tempat Nabi kembali, sandaran hati, tatkala Rasul kedinginan dan menggigil pada saat menerima wahyu pertama. Sebuah peristiwa spiritual yang magis, kokoh, dan bernilai tinggi dengan amanat pada wahyu pertama yakni; “Iqra”. Nabi Muhammad diperintahkan untuk membaca, atas nama Tuhan yang Menciptakan.

Dalam sejarah, kita kemudian paham, bahwa Nabi Muhammad diutus bukan hanya sebagai pemimpin Agama, namun juga pemimpin negara, dan pencipta peradaban. Dalam hadits, beliau bertutur bahwa agenda diutusnya menjadi Nabi adalah sebagai Guru, juga dalam rangka “Li utammima makaarimal akhlaaq”, menyempurnakan akhlaq. Dalam situasi sosial masyarakat yang semula diselimuti oleh tradisi jahiliyah, Nabi Muhammad hadir untuk merombak tata nilai yang dianggap tidak manusiawi, menjadi lebih beradab dan berbudaya.

Menghapus secara perlahan tradisi perbudakan, mengangkat derajat kaum perempuan, menciptakan iklim sosial yang egalitarian di bawah prinsip keadilan, adalah sejumlah agenda utama dalam misi Kenabian Muhammad. Dalam konteks kekinian, nilai-nilai di atas banyak dipuja oleh Barat dan menjadi Universal Values yang mewarnai peradaban.

Oleh karena itu, dalam konteks bernegara, momentum maulid Nabi ini perlu kita selami makna dan pesannya agar kehadiran para pemimpin benar-benar sejalan dengan prinsip maslahat umum. Berpihak kepada masyarakat luas, egalitarian, dan menjunjung tinggi prinsip keadilan. Sebab, kerap kali kita terlalu “ngoyo” untuk mencapai angka-angka pertumbuhan, namun dalam waktu yang sama kita abai dalam mewujudkan pemerataan keadilan dan kesejahteraan.

Alhasil, jika para pemimpin ingin yang terbaik dalam proses pengabdian, maka kita wajib meniru dan meneladani kepemimpinan Profetik Rasulullah Saw. Beliau bukan hanya sukses menjadi pemimpin umat, namun juga sebagai pemimpin negara, dan pencipta peradaban sehingga meninggalkan “legacy” yang bukan hanya kita rasakan sampai hari ini, namun juga akan abadi hingga hari kiamat kelak.

Allahumma shalli alaa sayyidinaa Muhammad, wa alaa aali sayyidinaa Muhammad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *