Artikel Keagamaan

Menjaga Harmoni Keluarga

ilustrasi

Oleh : Mariyatul Norhidaytati

Harmoni adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan eksistensi sebuah keluarga.

Rumah tangga, Seperti halnya nada, tidak akan terbentuk irama yang indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah. Justru nada-nada yang menoton bukanlah nada yang harmonis. Nada-nada yang berdinamika, bahkan rumit dan aneh, jika dikemas dengan apik-dipadukan dengan nada-nada lain-justru akan terdengar lebih estetik.

Demikian halnya dengan rumah tangga. Perbedaan konsep dalam berumahtangga, sikapi sebagaimana kita menyikapi nada rendah dan tinggi serta irama lainnya. Dua insan yang menjadi tokoh utama dalam rumah tangga, yakni suami dan isteri, haruslah memahami perihal harmonisasi semacam ini. Mereka adalah dua manusia yang tumbuh di lingkungan yang berbeda, yang tentu saja secara karakter dan budaya juga berbeda. Namun, dalam urusannya dengan komitmen berumah tangga, mereka harus bisa menyelaraskan perbedaan latar diri tersebut. Mengingat rumah tangga adalah sebuah bangunan visioner menuju masa depan yang bahagia, lahir dan batin, serta dunia dan akhirat. Apalagi jika didalamnya sudah terdapat tokoh inti lain seperti anak-anak. Perbedaan yang diselaraskan itu kian menjadi suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-jika keutuhan rumah tangga tersebut ingin benar-benar terjaga/langgeng.

ilustrasi

Sebagai tawaran, tentu saja jika ini berkenan, ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk meningkatkan harmoni keluarga, antara lain; ini hanya sebagai contoh:

Berikan Perhatian

  • Berikan perhatian. Misalnya dengan sekali-kali memberikan pujian, baik atas penampilan suami maupun isteri, atau dalam pelayanan sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Misalnya karena dalam budaya Indonesia, terutama budaya Banjar, tugas memasak-bagian pelayanan dapur adalah ranah isteri. Maka ketika penyajian itu bagus atau enak, maka berikan pujian itu, meski sekedar pujian kecil. Atau sekali-sekali suami mendekati isteri yang sedang memasak atau sedang mencuci piring. Kemudian menepuk pundaknya atau melingkarkan tangan dibadan isteri sebagai ungkapan terima kasih untuk tugas yang sedang dijalankan isteri. Atau dengan cara yang lain-perlu berpikir untuk itu, karena menyesuaikan dengan karakter masing-masing, apa yang bisa dilakukan. Kiranya tidaklah terlalu berat, atau mengada-ada. Tetapi cobalah untuk dilakukan untuk meningkatkan harmoni keluarga ditengah situasi yang mungkin ada juga yang berubah-rubah.

Berusahalah Untuk Selalu MENUNTUN Bukan MENUNTUT

  • Kemudian berusahalah untuk selalu MENUNTUN bukan MENUNTUT. Pada dasarnya, tidak ada orang yang suka dituntut. Misalnya, ketika dan tentu saja semua orang ingin disayang-diperhatikan-dicintai-dihormati, maka berikan dulu semua itu dari kita untuk pasangan kita. Tuntun dia untuk mengeluarkan energi sayangnya-sbgm kita memancarkan kasih sayang kita untuknya. Yang terjadi selama ini, kita menuntut untuk disayang, diperhatikan, tetapi kita sendiri tidak berusaha untuk mengulurkan kasih sayang itu padanya. Kita berharap orang lain atau pasangan menyayangi kita, sehingga kita juga akan menyayanginya. Sehingga kadang kita dengar keluhan orang yang berkata: “seandainya dia menyayangiku, tentu aku juga akan sangat menyayanginya”. Tetapi dia telah membuatku kecewa-aku sangat kecewa”.  Sekarang cobalah untuk dibalik. Berikan kasih sayang dan perhatian kita padanya terlebih dahulu. Sehingga dia mudah-mudahan juga akan membalas kasih sayang dan perhatian pula terhadap kita. Selama ini mungkin kita menuntut untuk disayang, sekarang coba menuntun pasangan untuk merajut benang-benang kasih dan sayangnya. Sehingga yang kita rasakan adalah kasih sayangnya bukan rasa kecewa.

Mengendalikan Diri

  • Mengendalikan diri. Dalam hidup ini, orang memiliki banyak keinginan, suami isteri juga begitu, masing-masing punya banyak keinginan. Untuk itu perlu penyesuaian dan timbang rasa, dahulukan keinginan yang kira-kira senada, sehingga mengurangi benturan. Keinginan adalah semua fungsi tambahan yang jika tidak ada sebenarnya tidak mengganggu. Akan tetapi kita seringkali mengharapkan untuk bisa mendapatkan fungsi tambahan tersebut. Contohnya makanan yang mahal, rumah yang besar dan mewah atau perabotan rumah, kenderaan atau mobil baru dan mutakhir dan seterusnya. Banyak sekali keinginan. Berbeda dengan kebutuhan yang merupakan fungsi besar atas sesuatu yang secara esensial diperlukan. Seperti makan untuk memenuhi nutrisi, tempat tinggal untuk istirahat, transportasi untuk bekerja, pendidikan untuk masa depan dan lain-lain. Karenanya suami isteri harus mampu memahami. Mana yang menjadi kebutuhan dan mana yang menjadi keinginan. Sehingga dalam pengendalian diri jangan sampai keinginan mengalahkan kebutuhan rumah tangga. Atau kebutuhan pasangan hidup kita terganggu karena tuntutan keinginan kita yang tidak terkendali dengan baik.

Menghindari Kebosanan

  • Menghindari kebosanan. Segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiran, tak terkecuali dengan kebosanan. Kebosanan itu sesungguhnya berasal dari pikiran yang berpikir tentang kebosanan. Jadi, pasangan yang mengalami kebosanan sesungguhnya mereka sedang terjebak pada pikiran negatif. Yang jika tidak diatasi akan membuat keadaan kian membosankan, bahkan sangat menekan keharmonisan keluarga.

Jika seorang suami atau isteri mulai merasa pasangannya tidak lagi bersemangat ketika bertemu dengannya. Atau ia enggan berbicara lama-lama dengannya, maka sudah sepatutnya ia mencari tahu kenapa pasangannya bisa mengalami hal tersebut. Kemungkinan besar, sang pasangan mengalami kebosanan. Maka, ia harus segera melakukan antisipasi. Jangan sampai kebosanan itu benar-benar menimpa pasangannya, apalagi dengan kadar yang besar. Sebagai seorang isteri atau suami yang cermat, ia harus peka terhadap kondisi tidak biasa pasangannya.

Baca juga : Etika Penanganan Konflik Keluarga

Kondisi rumah tangga yang menjenuhkan tentu saja bukan kondisi yang sehat. Seperti orang sakit, kejenuhan memerlukan terapi penyembuhan, jika tidak segera diatasi, ia akan menjadi penyakit hati. Jika kondisi hati sudah terluka, maka emosi kemungkinan besar tidak bisa dikendalikan. Hati yang gembira adalah obat, begitulah orang bijak berkata. Kegembiraan hati tidak akan terwujud dalam pikiran yang rumit dan kecewa dan sebagai akibatnya akan menimbulkan sikap-sikap yang tidak positif. Dan dalam kaitan rumah tangga. Sikap-sikap tidak positif tersebut bisa berupa amarah, acuh tak acuh. Bahkan yang lebih parah lagi adalah pelarian atau pencarian kebahagiaan selain dengan pasangan, berikut akan menimbulkan pertengkaran. Pertengkaran dalam rumah tangga adalah petaka. Alangkah naifnya jika petaka itu bersumber dari perasaan bosan dengan pasangan hidup. Karenanya hati-hati dan usahakan untuk tidak merasa bosan dg mempertebal kasih sayang. Meningkatkan intensitas komunikasi. lakukan ikhtiar untuk mengatasi rasa bosan itu jika ingin hubungan tetap harmonis.

=============

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *