Nasional

Menanti KAPOLRI Pilihan Jokowi

(Muhammad Sutisna, Mahasiswa Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen, Universitas Indonesia)

Satu tahun lebih Jenderal (Pol) Idham Aziz menjabat KAPOLRI, semenjak dilantik pada 23 Okober 2019 silam untuk menggantikan Jenderal Pol (Purn) Tito Karnavian yang diangkat oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Indonesia Maju Masa Bakti 2019-2024.

Tito Karnavian, selama berkarir menjadi Polisi baik sebelum dan sesudah menjadi KAPOLRI memiliki segudang Prestasi sesuai dengan bidangnya sebagai Polisi Reserse yang kerap menganggulangi kasus-kasus khusus. 

Ia juga berpengalaman dalam bidang anti teror, dan hal-hal yang berkaitan dengan kasus-kasus yang berat. Selain itu Tito ketika menjadi KAPOLRI berhasil melakukan reformasi secara besar-besaran insititusinya, khususnya dalam proses Reformasi Birokrasi Polisi, karena semenjak Reformasi berlangsung kurang mendapatkan citra baik oleh masyarakat.

Meskipun tugasnya sangat berat, seperti merubah perilaku anggotanya yang dikenal dengan bengis menjadi humanis, dan koruptif menjadi amanah, namun apa yang dilakukan Tito cenderung berhasil meskipun belum sempurna. Setidaknya upaya tersebut menjadikan polisi kembali ke tujuan awalnya sebagai pengayom masyarakat.

Dalam kondisi Indonesia sebagai negara yang demokratis diperlukan keterbukaan, akuntabilitas, dan senantisa melindungi hak-hak kebebasan berpendapat, dibutuhkan aparat penegak hukum yang professional dan humanis.

Tantangan tersebut mampu dibuktikan oleh Tito Karnavian ketika awal awal menjadi KAPOLRI langsung dihadapkan dengan tugas berat yakni gelombang aksi massa dari GNPF MUI yang menuntut salah satu Calon Gubernur DKI Jakarta yang tertimpa kasus penistaan agama akibat salah ucapnya yang disisi lain pernyataannya juga dipelintir.

Aksi 411 & 212 adalah momentum terberat saat Tito Karnavian menjabat, menjadi hal yang dilematis. Di satu sisi harus memberikan ruang aspirasi kepada masyarakat, di sisi lain mencegah terjadinya konflik horizontal di masyarakat akibat meningkatnya tensi politik saat itu karena bertepatan dengan menjelang Pemilihan Gubernur DKI.


Upaya yang dilakukan Tito nampaknya patut diapresiasi, karena faktanya di lapangan aksi 411 dan 212 berjalan dengan kondusif. Aparat menjadi lebih humanis berbaur dengan aksi massa, dengan menggunakan atribut peci putih dan sorban, di mana pada aksi tersebut pada akhirnya menjadi aksi doa bersama untuk keselamatan bangsa.

Selain itu Tito juga terjun langsung menenangkan massa, berbaur dengan pimpinan aksi, untuk mencegah terjadi seruan provokatif yang bisa membuat massa menjadi gaduh. Selain itu Tito Karnavian juga kerap dekat pemuka agama, duduk bersama mencari solusi atas segala permasalahan bangsa agar keutuhan NKRI tetap terjaga.

Prestasi Tito Karnavian nampaknya diteruskan dengan baik saat ini oleh Idham Aziz. Bukan karena keduanya adalah sahabat baik karena sama sama pernah terjun dalam berbagai operasi penanggulangan terorisme. Akan tetapi berkat profesionalitas dan kapabilitas Jenderal Idham Aziz. Dengan melanjutkan Reformasi Birokrasi POLRI yang sebelumnya sudah ditata dengan baik oleh pendahulunya.

Idham Aziz melakukan gebrakan yang efisien dan konsisten selain dibidang penanggulangan terorisme, seperti melanjutkan Satgas Tinombala yang masih berlangsung, seperti dalam upaya penegakan hukum, berhasil mengungkap kasus penyiraman air keras yang dialami Novel Baswedan, meskipun prosesnya berlarut-larut.

Prestasi yang paling menonjol  lainnya adalah berhasil mengungkap buronan kasus cessie BANK BALI yang dilakukan oleh Joko S Tjandra yang sudah hampir buron lama hingga 10 tahun lama lebih menghilang bak ditelan bumi, lalu tiba tiba muncul dan membuat heboh masyarakat atas upayanya untuk menonaktifkan red notice yang melibatkan Jaksa Pinangki bahkan melibatkan sejumlah oknum Jenderal POLRI.

Namun yang menarik adalah bukan hanya berhasil menggagalkan upaya yang dilakukan Joko Tjandra, akan tetapi berhasil menangkap buronan tersebut melalui operasi rahasia, dengan menugaskan khusus KABARESKRIM POLRI, Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo untuk menjemput Djoko Tjandra dari persembunyian di Negeri Jiran, atas kerjasama yang baik dengan Kepolisian Kerajaan Malaysia, sehingga buronan tersebut tidak bisa lari ke mana-mana lagi. Tugas dan peran ini dijalankan dengan baik oleh Komjen Listyo Sigit.

Saat ini menjelang pensiunnya Jenderal Idham Aziz sebagai KAPOLRI pada akhir tahun 2020 nanti, setidaknya Presiden Joko Widodo harus sudah mempersiapkan dan mempertimbangkan siapa yang layak menggantikan Idham Aziz.

Melihat situasi lingkungan strategis saat ini, ditengah kondisi dunia yang semakin uncertainty akibat Pandemi Covid-19 dibutuhkan kondusifitas masyarakat yang didukung oleh lembaga pengayom masyarakat yang dalam hal ini adalah POLRI supaya keamanan tetap terjaga. Selain itu menguatnya populisme agama akibat dari pilihan politik yang semakin terbelah dibutuhkan sosok jenderal yang bisa mengayomi para pemuka agama dari berbagai sektor lintas agama, untuk turut serta sama-sama melakukan komitmen dalam menjaga keutuhan bangsa, mencegah terjadinya konflik horizontal.

Ancaman lainnya adalah di ranah siber, ketika hampir masyarakat Indonesia mengandalkan teknologi dalam melakukan berbagai macam aktifitasnya, di mana terjadinya kerentanan kejahatan di ranah siber, seperti ujaran kebencian yang menghasilkan hoax, pencurian data, dan kasus-kasus kriminal lainnya.

Catatan lainnya adalah KAPOLRI yang baru harus bisa mengatasi permasalahan penegakan hukum yang selama ini belum tercapai secara maksimal, agar aparat kepolisian bisa menegakan hukum tanpa pandang bulu, setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama tentunya. Dan yang paling penting adalah KAPOLRI selanjutnya bisa meneruskan estafet kesuksesan para pendahulunya, khususnya dalam proses Reformasi Birokrasi POLRI yang perlu pembenahan dari waktu ke waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *