Artikel Keagamaan

MEMPERKOKOH PONDASI RUMAH TANGGA

rumah tangga

Pernikahan sejatinya merupakan upaya menyatukan 2 kekuatan, 2 kekuatan untuk sama-sama berjuang mengarungi bahtera rumah tangga. Pepatah lama mengatakan berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, sama-sama saling menyayangi, agar rumah tangga pun menjadi harmoni. Dan untuk menyatukan kekuatan itu membutuhkan kemauan serta penyesuaian diri. Sebab masing-masing orang memiliki latar belakang budaya, kebiasaan dan karakter yg berbeda.

Jadi yang disatukan dalam pernikahan itu adalah kekuatan, bukan sebaliknya. Nah kadang rasa miris hati kita, ketika  melihat ada pernikahan yg bukannya menyatukan kekuatan. Melainkan bersaing melihat kekurangan dan kelemahan pasangan. Karena yg dilihat adalah kekurangan dan kelemahan. Sehingga yg timbul adalah rasa kecewa, yg muncul adalah tuntutan agar dia menjadi seperti yg kita inginkan. Dan ketika tidak terwujud, kemudian berujung pd pertengkaran. Pernikahan seperti ini, Jangankan bahagia, malah kadang muncul ucapan bahwa pertengkaran dalam RT itu adalah hal yg biasa. Ya …terbiasa bertengkar, atau kadang ada orang yg berkata, pertengkaran adalah bumbu dalam perkawinan. Sehingga bagaimana mungkin pernikahan itu harmonis, bahagia kalau dibumbui dengan pertengkaran-pertikaian. Semestinya pernikahan itu dibumbui dg saling pengertian, dg rajutan cinta dan balutan kasih sayang serta disempurnakan dg bungkusan pengamalan beragama.

Dalam perjalanan RT, kadangkala pasangan suami isteri ada masa tertentu atau suatu masa mengalami penurunan intensitas kebersamaan. Intensitas komunikasi, atau penurunan kualitas komitmen pernikahan atau dalam bahasa yang lebih sederhana mulai kurangnya kehangatan. Mulai kurangnya perhatian, hambarnya cinta, hilangnya canda, tidak terasanya kasih dan sayang. Sampai pada tahap dimana hati menjadi hampa, ya… hati menjadi hampa. Ini pertanda pondasi RT sedang rapuh.

Padahal dalam Al-Qur’an Allah berfirman dalam Surah Ar-Rum (30) ayat 21:

Artinya:” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Ayat di atas  menggambarkan betapa dekat  kehidupan suami isteri. Dimana didalamnya ada perasaan tentram hidup bersama, dan kehidupan suami isteri itu indah, dimana diantara keduanya ada kasih dan sayang. Ada ketentraman, ada kasih dan sayang pertanda bahwa RT kita memiliki pondasi yg kuat-kokoh.

Namun ada kalanya pondasi RT melemah. Melemahnya pondasi RT bisa disebabkan oleh banyak factor. Antara lain faktor ekonomi, baik sulitnya ekonomi, maupun meningkatnya pendapatan atau posisi atau jabatan dalam  faktor pekerjaan. Bisa juga faktor adanya orang ketiga, atau pihak ketiga. Faktor kebosanan juga bisa menjadi penyebab melemahnya pondasi RT, faktor anak dll banyak sekali. Nah ketika pondasi RT mulai melemah, atau sudah tidak kuat lagi, maka harus ada upaya memperbaiki, memperkokoh agar tidak tumbang. Untuk itu perlu memahami apa yang menyebabkan lemahnya pondasi RT. Faktor apa yang paling dominan melemahkan pondasi RT kita. Kenali dulu akar masalahnya untuk bisa mendapatkan jalan keluar yang terbaik. Usahakan tidak merembet kepada hal-hal yang lain, yg akan menambah rumitnya persoalan RT.

Baca Juga : Menjaga Harmoni Keluarga

Ketika pondasi RT sedang melemah, harus benar-benar diperbaiki dengan tulus, konsisten, tidak sesaat. Perlu diingat; bahwa sebuah hubungan tidak bisa dibangun hanya dg sebuah tindakan fenomenal. Misalnya seperti kita lihat di Sinetron atau film. Suami mengajak isteri dinner-makan malam di tempat yg romantic. Atau suami, bisa pula isteri ya …mengejutkan pasangan dg sebuah surprise, atau tindakan dramatis lainnya; bukan sekedar itu, tetapi bukan berarti tindakan tsb tidak bermanfaat. Hanya saja tindakan itu akan menjadi mubazir. Hanya akan menjadi sebuah kenangan yg tidak memiliki arti. Jika kita tidak secara konsisten melakukan hal yg memang diperlukan untuk membangun pondasi hubungan yg sehat. Apa yg kita lakukan setiap harilah sebenarnya yg akan membangun pondasi pernikahan kita:

Berikut evaluasi bagi kita:

  • Apakah tindakan kita sudah sesuai dg apa yang kita katakan. Misalnya pasangan-pasangan muda sekarang, memanggil pasangannya dengan panggilan sayang atau yang, sayang katanya, namun disisi lain Nampak sering bertengkar.
  • Apakah kita sudah membuktikan kalau kita mau mendengar, menjadi pendengar yg baik?
  • Apakah kita bisa menjaga emosi kita?
  • Apakah kita bisa menjaga komitmen kita, kesetiaan kita?
  • Apakah kita punya semangat juang yg tinggi?
  • Apakah kita sudah menampakkan usaha untuk menyayanginya?
  • Apakah kita terlalu pelit baginya? Dalam keuangan, pujian, perhatian, kasih sayang?
  • Apakah kita terus memperbaiki diri? Dsb.

Suami dan isteri, dua insan yg menjadi tokoh utama dalam RT,  haruslah memahami perihal harmonisasi keluarga. Suami isteri adalah dua manusia yg tadinya tumbuh di lingkungan yg berbeda.  Yang tentu saja secara karakter dan budaya juga berbeda. Namun, dalam urusannya dg pondasi berumah tangga. Mereka harus bisa menyelaraskan perbedaan latar diri tsb. Mengingat RT adalah sebuah bangunan visioner menuju masa depan yg bahagia, lahir dan batin, serta dunia dan akhirat. Apalagi jika didalamnya sudah terdapat tokoh inti lain seperti anak-anak. Perbedaan yg diselaraskan itu kian menjadi suatu keharusan yg tidak bisa ditawar-jika kita ingin pondasi RT kita benar-benar kokoh.

===========

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *