Keagamaan

Kisah Harim ibn Hayyan; Seorang ‘Abid yang Zuhud*

ilustrasi

Kala itu sinar matahari terasa begitu menyengat. Harim ibn Hayyan bersama sahabatnya Abdullah ibn Amir tengah melakukan perjalanan menuju Hijaz dengan menunggangi unta kesayangannya. Di sepanjang perjalanan mereka begitu menikmati pemandangan yang ada sembari melafalkan kalamullah, Al-Qur’an. Pada pertengahan perjalanan mereka menemukan sebuah pohon rindang yang naungannya terbentang sampai jauh. Maka mereka berdua pun duduk beristirahat sembari memperhatikan pohon rindang tersebut.

Sementara leher unta mereka sedang sibuk menggapai pohon itu dan meraih daunnya, Harim pun bertanya kepada Ibnu ‘Amir, “Wahai Ibnu ‘Amir, apakah engkau ingin menjadi salah satu pohon diantara pohon-pohon yang rindang ini?’

Ibnu ‘Amir menjawab, “Demi Allah, tidak. Sungguh kami mengharapkan rahmat Allah yang lebih luas daripada itu.”

Harim, yang merupakan tabi’in zuhud dan jauh lebih mengenal Allah daripada Ibnu ‘Amir pun berkata, “Akan tetapi aku sangat ingin menjadi salah satu dari pohon-pohon ini, wahai Ibnu ‘Amir.”

Ibnu ‘Amir pun bertanya sambil tersenyum, “Mengapa?”

Harim kemudian menjawab, “Supaya aku bisa dimakan oleh binatang kemudian dikeluarkan dalam bentuk kotoran. Dan aku tidak akan menanggung hisab pada Hari Kiamat, ke syurga atau ke neraka.”

Maka Ibnu ‘Amir pun memandang Harim dalam diam dan tidak berkata apapun.

______________

Demikianlah orang-orang yang zuhud mengharapkan segala sesuatu yang jauh dari topeng dunia sehingga mereka mendapatkan ridha dari Allah Subhaanahu wata’ala. Orang-orang zuhud memiliki perenungan melebihi segala hal serta mampu terbang dengan jiwa-jiwa jernih mereka. Mereka senantiasa menundukkan jiwa mereka sendiri dan memikirkan ciptaan Allah Subhaanahu Wata’ala. Maka pemikiran dan perenungan itu semakin menambah pemahaman mereka kepada Sang Khaliq, sehingga perasaan mereka terguncang dan bertambahlah kehalusan di dalam hati dan perilaku mereka.

Baca juga : Orbit Waktu

Semoga kisah Hari ibn Hayyan ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua, pula harapannya kita semua dapat meneladani sebagaimana sikap Harim bin Hayyan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini yang semakin penuh dengan kegemerlapan.

Millatul Miskiyyah

(Part of Madrasah Influencer)

*dinarasikan dari Kitab ‘Ashru at Tabi’in karya Syaikh Abdul Mun’im al Hasyimi

2 thoughts on “Kisah Harim ibn Hayyan; Seorang ‘Abid yang Zuhud*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *