Opini

Keimanan Baru di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

Oleh: Muhammad Radini, Wakil Ketua PWNU Kalsel

Pendemi covid19 yang menyebar luas ke seluruh Negara di dunia dihitung pertanggal 12 agustus sebanyak 20,3 juta jiwa dengan kesembuhan mencapai 12,6 juta jiwa, sementara yang meninggal dunia 741 ribu. Dari data tersebut yang menarik adalah dengan melonjaknya kasus baru dari Negara Vietnam yang pernah diklaim telah berhasil menerapkan standar kesehatan WHO dengan lockdown pada negara tersebut. Diberitakan oleh BBC sejak akhir juli ada sekitar 400 kasus positif kemudian melonjak mencapai 780 kasus dan menurut wakil menteri kesehetan Vietnam jumlah akan terus meninggkat selama 10 hari kedepan.

Menurut pendapat saya kegagalan Vietnam adalah kegagalan sains untuk menjelaskan tentang bagaimana manusia modern menjawab permasalahan mendasar yaitu kesehatan manusia yang membuat kebingungan ilmuwan tidak hanya di negara tersebut tapi juga diseluruh dunia. Sebagaimana diberitakan bahwa masyarakat Vietnam sudah ber-euphoria dalam merayakan keberhasilan negaranya dalam menanggulangi pendemi covid19, kemudian Negara Vietnam dijadikan acuan oleh negara-negara dunia sebagai sebuah negara yang berhasil menerapkan protokol kesehatan dengan standar ketat WHO. Namun faktanya sekarang Negara dengan pengamanan dan protokol kesehatan yang kuat telah tumbang oleh makhluk bernama covid 19.

Lalu apa yang salah ketika penerapan protokol kesehatan dengan standar WHO telah di lakukan? Menurut Prof. Michael Toole, seorang ahli epidemologi dan peneliti utama di Burnet Institute di Melbourne mengatakan bahwa ia tidak yakin ada yang salah dalam penanganannya, dan beliau mengatakan lagi bahwa begitu ada sedikit celah dan virus masuk dapat menyebar begitu cepat. Sampai saat ini pun ilmuwan di seluruh negeri berlomba-lomba mencari tahu bagaiman hal itu terjadi. Dan kebingungan ini pun ditimpali lagi oleh Prof. Rogier Van Doorn, direktur unit penelitian klinis Universitas Oxford yang mengatakan sumber wabah di Vietnam terbaru ini masih menjadi sebuah misteri.

BAGAIMANA DENGAN KITA DI INDONESIA?

Pemerintah kita telah memberlakukan new normal / adaptasi kebiasaan baru sebagai sebuah cara baru dalam beraktivitas sosial di negeri yang kita cintai ini. New normal menurut saya adalah cara agar bangsa ini mampu selamat bukan untuk menghindari pendemi karena sangat jelas susah menerapkan protokol kesehatan dengan standar WHO tersebut. Negara dengan standar ketat seperti halnya Vietnam pun telah gagal menahan laju penyebaran wabah ini. Langkah new normal adalah upaya pemerintah agar menahan laju penyebaran pendemi covid 19  dan menyelematkan Indonesia dari jurang resesi ekonomi yang telah terjadi di beberapa negara di berbagai belahan dunia.

New normal adalah sebuah cara baru dalam pelaksanaan aktifitas sosial termasuk dalam beribadah, bagaimanapun hari ini kita tidak bisa lagi menemukan kumpulan jamaah dalam jumlah besar di rumah-rumah ibadah umat beragama di dunia apapun agamanya, kalaupun berkumpul tentu dalam batasan waktu dan physical distancing. Maka ketika kita menganggap ritual-ritual agama adalah satu-satunya cara untuk selamat dari wabah ini tentu akan terasa aneh. Bagaimana mungkin hampir seluruh tempat yang di anggap suci oleh umat beragama di dunia tidak luput dari serangan wabah ini.

Tentu meniadakan ritual dalam keyakinan masing-masing agama pun adalah sebuah kebodohan yang nyata karena nyatanya sains pun sampai saat ini tidak mampu menjawab permasalahan ini. Ketidaknormalan-ketidaknormalan yang terjadi menandakan ada sebuah kekuatan yang luar biasa besar dan luar biasa hebat di luar dari nalar-nalar akal pikir manusia dan di luar dari keegoisan manusia yang mengklaim diri sebagai manusia beragama. Saya menyakini ada begitu banyak saintis yang anti Tuhan juga kebingungan dengan fenomena ini dan begitu banyak agamawan yang merasa beragama mati dengan kebodohan-kebodohannya. Terbukti covid 19 telah membunuh para ahli kesehatan dan agamawan yang mengklaim diri dekat dengan Tuhan.

KEIMANAN Batu SEBAGAI OBAT UNTUK MANUSIA.

Meski di tengah ketidakpastian terkait jawaban kapan pendemi covid 19 akan berakhir dan adakah obat yang tepat untuk penyakit yang ditimbulkan virus covid 19, namun nyatanya semua orang dalam hal ini para ahli kesehatan sepakat bahwa agar manusia bisa bertahan di tengah pendemi covid19 ini adalah dengan membangun daya tahan tubuh. Sementara untuk membangun daya tahan tubuh salah satu cara yang paling efektif adalah dengan menghindari stress dimana pikiran dan hati yang selalu lapang dan bahagia .

Membangun kebahagiaan yang berkelanjutan tentu tidaklah mudah namun mengacu pada surat yunus ayat 62  diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yang berarti “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih”, tentu apabila mengacu pada ayat ini manusia yang tidak memiliki ketakutan dan tidak pula bersedih hati adalah manusia yang senantiasa menerima takdir Allah, menjalani kehidupan, dan mensyukuri apa yang ada di dalam dirinya. Manusia inilah yang hatinya terus menerus berlapang hati dan di berikan kebahagiaan akibat dari rasa syukurnya dan inilah makhluk yang menyadari betul siapa dirinya sesungguhnya.

Pertanyaannya  bagaimana cara agar hati tetap tenang sehingga setiap masalah dan tekanan yang begitu banyak datangnya namun hati dan pikiran senantiasa berbahagia? Al Qur’an telah memberi jawaban di dalam surat Ar-rad ayat 28 yang di terjemahkan berbunyi “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”. Namun pertanyaan timbul bagaimana bila ritual ibadah sudah dilakukan dari shalat, puasa, dan dzikir, dll yang secara lahir dan kasat mata terlihat terus menyebut Tuhan namun hati tidak pernah tenang dan dihantui masalah-masalah bahkan malah tetap saja stress dan depresi?

Baca juga : Indonesia Diambang Proxy War

Disinilah maksud saya bahwa kita perlu memperbaharui kembali keimanan kita masing-masing apakah sudah benar ritual yang kita kerjakan selama ini. Tentang shalat kita, puasa kita, dan dzikir yang kita ucapkan ribuan kali di setiap hari. Pada masa inilah saat ekonomi memburuk dikarekan pembatasan aktivitas sosial dan kematian yang sudah sangat dekat di sekitar kita dengan makhluk Tuhan bernama covid19 yang bisa menyasar ke siapa saja tanpa mengenal agama, kedudukan, dan jenis kulit masihkah kita tertekan dalam rasa takut dan ketidak bahagiaan yang semakin menambah masalah pada kesehatan kita. Tentunya jangan sampai ritual yang kita lakukan setiap harinya kering dari spiritual karena disanalah letak pertahanan manusia, dimana jiwa yang senantiasa merasakan wujud hadirnya kekuasaan Allah pada dirinya dengan kepasrahan tunggal yang benar-benar akan selamat pada masa saat ini.

New keimanan yang saya maksud bukanlah keimanan yang berbeda pada pemahaman agama pada umumnya namun kita harus semakin memotivasi diri kita untuk lebih dekat dan selalu lebih dekat pada Tuhan. Karena disanalah sumber ketenangan batin yang hakiki dan sangat berguna dalam menghadapi hidup new normal. Singkatnya manusia modern sekarang tidak bisa lagi hanya menjadikan agama sebagai sebuah ritual dan pengetahuan saja  tapi harus juga merasakan bahwa ada Tuhan yang mengatur seluruh hidup kita yang kekuasaannya melampaui definisi-definisi ilmu pengetahuan yang telah diketahui oleh manusia.

Sederhananya new keimanan disini adalah bagaimana manusia modern mampu mempergunakan akal pikirnya sebagai wujud sukur kepada Allah akan nikmat akal dan berusaha mengisi bathinnya dengan menjadikan dirinya sebagai wali-wali Allah Taala sehingga dengan bekal tersebut kita mampu menghadapi himpitan hidup entah dari masalah kesehatan atau masalah ekonomi yang jelas dirasakan pada masa pendemi covid 19. Dan ketika manusia modern telah mampu bertansformasi menjadi wali-wali Allah maka tentulah bukan saja terbentuknya masyarakat yang sehat namun juga terciptanya sebuah peradaban maju yang berkeadilan.   

4 thoughts on “Keimanan Baru di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

  1. Subhanallah,,,
    Alhmdulilah,,,
    Lailaha Ilallah,,,
    Allah huakbar,,,
    Ya Allah,,, Ya Allah,,, Ya Allah,,, Ya Allah,,, Ya Allah
    Ya Allah,,, Ya Allah,,, Ya. Allah,,, Ya Allah,,,terus mnerus
    🙏🙏🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *