Artikel

Jalin Efektifitas Komunikasi di Era 4.0

  • Oleh: Khairun Nida, Universitas Muhammaddiyah Malang – Ilmu Komunikasi

Komunikasi merupakan cara individu memberi pesan atau individu (Source) kepada orang lain (Receiver), dimana di dalam komunikasi tentu terjadi interaksi atau timbal balik dari lawan komunikasi. Seperti yang telah kita ketahui, komunikasi tidak hanya terjadi oleh dua orang saja, melainkan dari Source yang menyampaikan sebuah pesan atau informasi dapat diberikan kepada khalayak umum, seperti kelompok, masyarakat, dan organisasi.

Ada pula komunikasi menurut para ahli, yang saya kutip dari Filsafat Ilmu Komunikasi Suatu Penghantar, ditulis oleh Dani Vardiansyah. Dani Vardiasnyah mengungkapkan beberapa definisi komunikasi secara istilah yang dikemukakan para ahli, 1. Jenis & Kelly menyebutkan “Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang lainnya (khalayak)”. 2. Berelson & Stainer “Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain. Melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka, dan lainlain” 3. Gode “Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari yang semula yang dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki dua orang atau lebih”.  

Teori dari komunikasi tidak dapat terlepas dari teori psikologi Komunikasi merupakan bagian penting untuk kehidupan manusia. Didalam objek psikologi sosial manusia sebagai makluk individu, manusia sebagai makhluk sosial, dan manusia sebagai makhluk berkeTuhanan. Objek psikologi sosial ini, membuktikan bahwa manusia memerlukan orang lain sebagai makhluk sosial. Ini artinya menjalin komunikasi tentu kita lakukan sebab kita makluk sosial.

Pada psikologi sosial membahas mengenai situasi sosial dapat mempengaruhi perilaku manusia ketika berinteraksi. Psikologi sosial juga berkaitan erat dengan sosiologi, dimana sosiologi lebih menekan pada interaksi atau timbal balik, sedangkan psikologi menekan kepada perilaku individu ketika menghadapi stimulus sosial. Kita tidak dapat lepas dari komunikasi setiap harinya.

Sebab ini, komunikasi yang terjalin akan efektif ketika mengutamakan komunikasi pada teori psikologi sosial, mengembang kehidupam manusia yang berhubungan dengan teori komunikasi. Dari psikologi sosial yang memiliki banyak ketersambungan dengan sosiologi, yang mana hal tersebut juga termasuk didalam komunikasi.

Membahas mengenai komunikasi, maka tentu berhubungan dengan interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan yang dilakukan antar individu atau kelompok, dimana dalam interaksi ini akan terjadi timbal balik, bahkan saling mempengaruhi, mengubah, dan memperbaiki perilaku individu lain atau akan terjadi hal yang sebaliknya.

Komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, ditengah perkembangan zaman. Seperti yang terjadi di Era Revolusi 4.0, Era Revolusi Industri 4.0 adalah tren yang terjadi di dunia industri, menggunakan teknologi disegala aspek kehidupan.  Terjadi saat ini,kita mampu berkomunikasi dengan seseorang tanpa harus menunggu waktu yang lama karena harus bertemu atau menunggu kiriman dari sebuah kantor post. Sekarang kita dapat berkomunikasi dengan kecanggihan teknologi yang tersedia, seperti Whatsapp, Line, dan media sosial lainnya. 

Perubahan dalam komunikasi seseorang berubah cepat dengan adanya kemajuan teknologi. Hal ini tentu membuat cara seseorang dalam berkomunikasi juga berbeda dengan era sebelumnya, namun saya merasakan dengan adanya kemajuan dari teknologi ini membuat intensitas komunikasi lebih besar di media sosial dan membuat menurunnya intensitas secara  face to face.

Dari pengalaman komunikasi yang saya jalani, saya merasakan meningkatnya intensitas komunikasi dalam media sosial saja. Hal ini saya alami, dengan komunikasi yang saya jalin terhadap sesama alumni dan pertemanan SMP saya, disaat berkumpulnya kami disuatu tempat, beberapa teman saya tidak dapat lepas dari handphone, hal ini mengakibatkan tidak terjalin interaksi sosial dalam komunikasi kami terjalin tidak intensif.

Padahal saat berkumpul bersama saya melakukan aloplastik, saya melakukan tindakan tidak bermain dengan handphone, dengan tujuan teman sekitar saya dapat melakukan hal yang sama. Saya menyadari pentingnya teknologi disaat ini ditambah dengan keadaan yang seperti ini dan saya juga menyadari bahwa cara berkomunikasi di Era Revolusi Industri 4.0 dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya berkomunikasi melalui media sosial, namun saya merasa bahwa adanya perkembangan ini membuat yang dekat terasa jauh, dimana hal ini bukanlah tujuan dari era ini.

Tujuan dari adanya Revolusi 4.0 dengan teknologi digital membuat orang yang jauh terasa dekat. Perkembangan teknologi, memberikan dampak langsung kepada saya, dari pengalaman saya di tahun 2014 saya memilih untuk berpisah orang tua yang berada di Kalimantan Timur, dikarenakan tingkat pendidikan agama yang rendah disana, saya memutuskan untuk ketempat nenek di Kalimantan Selatan untuk melanjutkan pendidikan dibangku SMP. Pada tahun itu saya belum menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi, ditahun 2015 saya mulai menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan keluarga saya dikota lain, khususnya orang tua saya.

Pada generasi Z yang saya alami, tentu ada baik dan buruk dalam perubahan era ini, namun semakin terlihat besarnya intensitas komunikasi pada media sosial. Kehidupan berkomunikasi generasi Z ini, memperlihatkan bahwa tidak ada sebuah pemisah diantar diri mereka dengan media sosial dan keseharian dalam dunia nyata.

Komunikasi dalam media sosial, intensitasnya terus terjadi setiap saat, hal ini membuat pertemuan secara face to face berkurang, dan terbukti disebuah pertemuan tidak lepas dari handphone tangan mereka. Sehingga hal ini membuat terbaginya fokus saat menjalin interaksi satu dengan yang lainnya. Adanya kemajuan ini memang mempermudah kita dalam kehidupan sehari-hari, namun menghilangkan cara baik kita dalam sebuah efektifitas berkomunikasi dengan baik.

Mengutip dari Binus University, Fenomenologi Komunikasi Genenerasi Z” ditulis oleh Nisrin Husna, S.Ikom, M.Ikom, dia menuliskan “dr.Miryam A. Sigarlaki, M.Psi menambahkan bahwa Generasi Z  bersifat skeptis dan sinis, menjunjung tinggi privasi, memiliki kemampuan multi-tasking yang hebat, mengalami ketergantungan terhadap teknologi, serta memiliki pola pikir yang sangat luas dan penuh kewaspadaan. Ia berpendapat bahwa gadget seharusnya menghantar mereka menjadi generasi yang lebih cerdas dibanding generasi sebelumnya karena informasi tersedia oleh perangkat tersebut. Namun sayangnya, Generasi Z justru mengalami adiksi yang menyebabkannya tidak dapat lepas dari gadget sehingga berdampak pada kurang sosialisasi, menjadi pribadi yang tidak fokus, dan memiliki kompetensi sosial yang sangat kurang”. Komunikasi harusnya terjalin efektif dengan adanya perubahan ini, bukan menjadikan kita sebagai seseorang yang acuh, kita memerlukan komunikasi yang baik, dengan interaksi secara langsung maupun melalui media sosial, namun sebaiknya kita dapat menggunakan kedua cara ini dengan baik dalam berkomunikasi.

  • Referensi :

Vardiansyah, Dani. 2008, Filsafat Ilmu Komunikasi Suatu Penghantar file:///C:/Users/Win10/Downloads/Documents/Bab%20II.pdf. Jakarta: PT. Indeks. diakses pada Rabu, 25 November 2020 pukul 11.38

Husna, Nisrin. 2018, “Fenomenologi Komunikasi Genenerasi Zhttps://binus.ac.id/malang/2018/02/fenomenologi-komunikasi-generasi-z/ diakses pada Kamis, 26 November 2020 pukul 20.00

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *