Opini

MENANTI GENERASI TERKUAT PASCA PANDEMI

Oktanta Tri Hatmoko – Direktur Hakate group

“Tanpa disadari, pandemi tengah melakukan seleksi alam terhadap umat manusia karena pada akhirnya individu yang tidak siap akan gugur sedangkan individu yang mampu memaksimalkan daya berfikir ketingkat yang lebih tinggi akan beradaptasi dengan cepat serta bertahan menjadi sebuah individu yang kuat, smart dan adaptif .”

Gejolak pandemi yang sudah berlangsung sejak tahun lalu mempengaruhi banyak hal, mulai dari yang bersifat individu, kolektif, bahkan seluruh umat manusia. Adanya vaksin ini merupakan satu dari banyaknya upaya pemerintah di dunia menekan dan menghentikan angka penyebaran, termasuk di Indonesia. Adanya vaksin bisa menjadi penanda dimana kita akan memulai fase baru setelah berjuang bersama dalam menghadapi krisis akibat pandemi.

Fase baru ini telah terlihat dari perubahan perilaku, moral, spiritual, mindset, olahraga, sistem kerja, sistem pendidikan, dan sebagainya secara nyata menunjukkan proses seleksi yang yang sedang berlangsung. Konsekuensi pandemi sebagai seleksi alam tentu berlaku bagi umat manusia. Tanpa disadari, pandemi tengah melakukan seleksi alam terhadap manusia.

Memasuki proses pemulihan pasca pandemi, Indonesia tentu saja dihadapkan kepada berbagai tantangan. Krisis akibat Covid-19 berdampak langsung pada banyak sektor seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan juga sosial. Seluruh lapisan masyarakat tentunya mengharapkan perubahan kongkrit pasca pandemi. Pada saat yang bersamaan, perhatian masyarakat juga tertuju kepada kontribusi yang bisa ditawarkan oleh kalangan pemuda.

Sorotan tersebut tidak terlepas dari fakta bahwa pemuda memiliki peran sentral dalam mengarahkan angin perubahan di berbagai momen krusial bangsa Indonesia. Sebut saja peristiwa Sumpah Pemuda 1928, Perjuangan Kemerdekaan 1945, hingga Reformasi 1998. Berbagai kejadian penting tersebut menjadi saksi dimana pemuda menjadi garda terdepan dalam menghadapi perubahan.

Lahirnya Health Generation

Edukasi soal imunitas dan berbagai macam perlindungan Kesehatan hadir sebagai respon atas pandemi, bukan tidak mungkin edukasi protokol kesehatan dan rutinitas berolahraga ini akan menjadi permanen jika pandemi sudah berakhir. Situasi ini memaksa manusia mau tidak mau harus beradaptasi dengan perubahan itu. Dengan kembali melihat sejarah pada tragedi Flu Spanyol lebih dari satu abad yang lalu, dunia akan kembali berbenah yang berdampak langsung pada terbentuknya sebuah kebiasaan atau kebudayaan yang baru.

Pandemi Flu Spanyol yang terjadi selama periode 1918-1920 terlah membentuk kesadaran negara-negara di dunia mengenai sistem kesehatan universal. Meskipun belum ada data kongkrit yang pasti, Flu Spanyol diperkirakan menjangkit sepertiga penduduk dunia kala itu dengan menelan kroban sebanyak puluhan juta.

Perubahan yang terjadi akibat Flu Spanyol terfokus pada sistem kesehatan universal dan kemudahan akses masyarakat terhadap kesehatan, terutama di negara-negara jajahan. Selain itu, sistem sanitasi yang buruk akibat perang sebelumnya mulai dibenahi setelah pandemi selesai sehingga level kebersihan di masyarakat akar rumput juga meningkat. Di level global, timbul kesdaran mengenai pentingnya kerjasama dalam menghadapi pandemi. Hasilnya, terbentuklah Health Organization yang menjadi cikal bakal WHO saat ini atas inisiasi Liga Bangsa-Bangsa.

Dengan melihat fakta sejarah diatas, maka kita bisa memprediksi hal yang sama kemungkinan besar akan terjadi juga saat ini. Perubahan tersebut akan menimbulkan revolusi kebiasaan baru, terutama yang berkaitan dengan aspek kesehatan dan pelayanan umum. Sebagai contoh, akan terlihat asing saat ini jika kita melihat ada orang yang tidak menggunakan masker di tempat keramaian. Pada saat yang bersamaan, fasilitas umum seperti mall, bandara, terminal, stasiun hingga tempat ibadah selalu menyediakan tempat khusus bagi pengunjung untuk mencuci tangan.

Meskipun pemerintah saat ini tengah gencar dalam upaya vaksinisasi massal, tentu kita berharap bahwa kebiasaan baru yang saat ini kita terapkan mampu terus bertahan bahkan setelah pandemi berakhir. Dengan kebiasaan sehat seperti ini tentu saja akan menghasilkan generasi yang lebih baik di masa yang akan datang sehingga mampu memberikan dampak positif bagi kemajuan pembangunan bangsa.

Membentuk Generasi Problem Solver

Tantangan terbesar dalam menghadapi masa depan adalah pace perubahan yang semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Artinya, langkah yang paling dibutuhkan saat ini adalah menemukan cara yang paling efektif untuk membentuk generasi muda yang adaptif, kreaitf, inovatif dan kolaboratif.

Pandemi yang terjadi saat ini menjadi bukti bahwa ada tantangan tidak terduga dimana perubahan dipercepat sehingga menguji sejauh mana kita menguasai keempat skill diatas. Kondisi ini menciptakan “lingkungan dan kebiasaan baru yang tidak terduga” semua umat manusia seperti berlomba untuk lepas dari dampak pandemi, merek memaksimalkan daya berfikir ketingkat yang lebih tinggi. Hal ini seakan memaksa  untuk cepat bersikap adaptif dalam berinovasi mengedepankan kreatifitas dan penggunaan teknologi yang efisien dan maksimal, sehingga tetap menghasilkan produktivitas yang tinggi.

Adanya kolaborasi juga sangat diperlukan di kondisi seperti saat ini karena kita memerlukan satu sama lain untuk saling melengkapi. Ide yang konstruktif pun memerlukan implementasi yang tentunya membutuhkan kontribusi serta bantuan dari pihak lainnya. Nantinya, pola kolaboratif ini mampu menghasilkan solusi untuk berbagai permasalahan. Dalam kasus Covid saat ini, bisa kita saksiskan bahwa inovasi serta kontribusi pemuda menjadi aspek penting dari keberhasilan kita melewati pandemi.

Pada akhirnya, kita memerlukan generasi yang adaptif kolaboratif sebagai jawaban untuk menghadapi persaingan global yang semakin kompetitif sekalipun di kondisi pandemi seperti sekarang. Karena pada akhirnya individu yang tidak siap akan “gugur” sedangkan individu yang mampu beradaptasi dengan cepat akan bertahan menjadi sebuah individu yang kuat dan adaptif.

Perubahan Adalah Sebuah Keniscayaan

Lebih dari dua millenium yang lalu, Herakleitos, seorang filsuf dari era Yunani kuno memiliki sebuah gagasan mengenai “segala sesuatu itu mengalir”. Konsep tersebut kemudian dijabarkan dengan keterkaitan dengan konsep perubahan di tengah masyarakat.

            Panta rhei kai uden menei

Kutipan tersebut merupakan wejangan Herakleitos yang paling terkenal. Secara singkat, maksud dari kalimat diatas adalah bahwa semua entitas itu bergerak, mengalir dan tidak ada satupun yang bersifat tetap.

Ribuan tahun setelahnya, tepatnya pada akhir abad ke-19, Herbert Spencer yang merupakan pencetus darwinisme sosial juga mengafirmasi asumsi dari Herakleitos. Spencer, berpendapat bahwa kehidupan masyarakat  tumbuh secara progresif ke arah yang lebih baik. 

Terlepas dari dampak negatif yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19, dunia akan berbenah dengan menghasilkan sistem yang lebih baik di tengah masyarakat. Cepat atau lambat, perubahan memang akan selalu terjadi dan kita sebagai entitas bagian dari civil society harus menyadari hal tersebut sambil terus mempersiapkan kualitas diri dalam menghadapi perubahan.

Pandemi saat ini seakan menjadi “pengingat” bahwa kita tidak bisa akurat sepenuhnya dalam memprediksi tantangan di masa depan. Kehadirannya secara tiba-tiba memaksa kita untuk terus berjalan beriringan bersama aliran waktu dan perubahan. Tugas kita saat ini adalah tetap memandang kedepan dan bersiap menghadapi perubahan selanjutnya.

       

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *