Artikel

Fenomena Cyberreligion

(Oleh: Shinta Lestari, Pegiat Literasi Digital)

Dalam beberapa dekade terakhir, kemunculan media sosial menjadi ruang baru (new media) bagi masyarakat. Pasalnya, kehadiran media sosial, bukan hanya ajang silaturahim, saling berinteraksi, dan mencari informasi saja, tetapi juga menjadi tempat ‘ngaji’ bagi mereka yang haus akan ilmu agama. Salah satu fenomena keagamaan baru yang muncul pasca era media sosial adalah, adanya pergeseran otoritas keagamaan (religious authority shifting).


Hasil survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2018, mengungkap jumlah pengguna internet mencapai 143,26 juta jiwa atau meningkat dibanding tahun sebelumnya 132,7 juta jiwa. 17 Pengguna internet yang didominasi kaum muda menandakan adanya peralihan dari media konvensional ke media massa digital.


Pada tahap perkembangannya, internet kini juga berfungsi sebagai tempat menimba ilmu agama. Maraknya website dan situs-situs keagamaan di internet mempertegas adanya aktivitas ‘n gaji’ ilmu agama di dunia maya. Dengan beragam kemudahan dan fasilitias yang disediakan internet, menggoda masyarakat untuk ramai-ramai beralih ke dunia maya yang kemudian secara alamiah membentuk apa yang disebut ‘cybercommunity’ atau komunitas siber.


Pada saat yang sama juga, media sosial pun diriuhkan oleh kemunculan para tokoh agama baru. Mereka, meniti karir ketokohannya di media sosial dengan memproduksi konten-konten keagamaan yang ramah bagi warganet (netizen). Bermodal penampilan yang menarik, gaya komunikasi yang ciamik ditambah gimmick-gimmick yang disukai. Para tokoh agama karbitan ini pun tak sedikit yang mendapatkan banyak jamaah di media sosial.


Meminjam data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2019, indeks diseminasi media sosial Indonesia mencapai 39,89 persen dari skor tertinggi sebesar 100 persen. Di sisi lain, menurut laporan ini, indeks orang yang mencari keberadaan Tuhan mencapai 43,91 persen, sifat-sifat Tuhan 40,31 persen, kuasa Tuhan 40,31 persen, dan kisah hidup orang-orang suci 36,72 persen.


Berdasarkan data tersebut, artinya minat masyarakat terhadap isu pemahaman agama di media sosial sangatlah tinggi. Data ini juga mencerminkan setengah dari total masyarakat Indonesia menggunakan media sosial untuk interaksi dan mencari informasi kehidupan, termasuk permasalahan agama.


Barangkali, inilah yang disebut-sebut era Revolusi Informasi, di mana Internet telah mengubah wajah dunia, termasuk pergeseran otoritas keagamaan. Menurut Gary R. Bunt dalam bukunya, Islam in the Digital Age menyebut bahwa kemunculan internet menghadirkan dua sisi terhadap Islam, yakni peluang dan ancaman.


Peluangnya, karena internet (termasuk media sosial) bisa dijadikan media untuk mengembangkan Islam, baik secara dakwah maupun keilmuan. Akan tetapi, di sisi lain, internet juga bisa menjadi ancaman bagi Islam, lantaran produksi dan distribusi keilmuan Islam di dalamnya cenderung tidak bisa terkontrol. Hal itu yang berdampak langsung pada terjadinya reduksi kebenaran agama.


Kekhawatiran Gary R. Bunt akan terjadinya reduksi kebenaran agama (Islam) itu tampaknya bukan isapan jempol belaka. Gejalanya bisa kita lihat dalam fenomena keberagamaan Muslim di Indonesia saat ini. Ketika internet dan media sosial menjadi sarana belajar agama, yang muncul kemudian ialah berbagai kesalahpahaman, bahkan penyimpangan atas ajaran Islam itu sendiri.


Hal ini terjadi lantaran para penceramah agama di media sosial kerapkali tidak memiliki latar belakang keilmuan Islam yang mumpuni. Mereka menjadi ustadz lebih karena branding dirinya, bukan karena kapasitas keilmuan yang dimilikinya.


Maka, tak jarang, produksi pengetahuan Islam yang mereka sebarluaskan ke publik pun acapkali tidak sesuai dengan ajaran Islam sesungguhnya. Minimnya pengetahuan para ustadz tersebut di bidang Bahasa Arab, fiqih, tasawuf dan ilmu-ilmu dalam Islam kerapkali membuat mereka ngawur dalam berpendapat dan berfatwa. Tidak jarang pula, mereka mengeluarkan statemen-statemen yang mengarah pada ujaran kebencian terhadap kelompok Non-Muslim atau golongan minoritas lainnya.


Di sisi lain, jika menjadikan media sosial sebagai rujukan utama menyebabkan kerawanan masyarakat dan melahirkan sikap intoleran, hingga mengganggu sendi-sendi beragama yang diakibatkan banyaknya pemikiran dari media sosial. Banyaknya konten keagamaan yang beraliran radikal dan ekstrem akan lebih mudah dikonsumsi masyarakat, tanpa berkonsultasi atau meminta pendapat dari otoritas atau sumber resmi agama terlebih dahulu.


Dengan demikian, sebenarnya belajar agama melalui internet atau media sosial tentu bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah. Akan tetapi, alangkah baiknya, jika kita tidak menjadikan media sosial sebagai rujukan utama. Belajar ilmu agama seharusnya kepada guru, kiai, dan ustadz di pondok pesantren bukan pada media sosial. Oleh karena itu, apa yang diungkapkan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) itu benar, bahwa agama itu merupakan jalan hidup bukan gaya hidup, seperti apa yang media sosial tampilkan selama ini.

Baca juga : Tradisi Bulan Muharram di Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *