Beragama Dengan Cara Para Ulama

(Oleh: Harun Al Rasyid, Wakil Ketua PWNU Kalsel)

Kedudukan Ulama dalam agama sangatlah prestisius, malah dlm istilah sabda Nabi saw para ulama itulah para pewaris Nabi. Kenapa mereka dinisbatkan sebagai pewaris Nabi? Tentu kapasitas keulamaan (ilmu) yang mereka miliki. Semenjak para Nabi atau Nabi Muhammad saw masih hidup, maka kebenaran ada pada apa yg dilakukan, diucapkan dan dibenarkan oleh beliau. Setelah beliau (Nabi saw) wafat, maka otoritas kebenatan turun kepada para sahabat pilihan, thabi’in, thabi’-at thabi’in (3 generasi setelah Nabi saw).

Setelah 3 generasi pertama itu tiada, apakah berhenti? Tentu tidak. Agama ini diteruskan oleh generasi selanjutnya yang keilmuan tidak lepas dari mereka, rantai silsilah keilmuan sambung-menyambung bak permata yg diikat. Hingga hari ini, kita tetap bisa merasakan keagungan ilmu-ilmu ulama ini yg tidak putus sampai kepada Nabi saw.

Jika bersumber dari Nabi saw, kenapa pendapat ulama banyak berbeda? Tentu berbeda, karena mereka bukan Nabi saw. Para ulama yang tersebar dimana-mana itu tidaklah harus sama dalam kesimpulan pendapatnya. Karena mereka hidup dalam perbedaan geografis, adat-istiadat, karakter komunitas, kapasitas pengetahuan yg terbatas serta cara berfikir variatif.

Namun yang harus diteladani dari mereka, kejujuran ilmu atau istilah sekarang “kejujuran intelektual” bahwa mereka tidak pernah menisbatkan pendapat mereka dgn kemutlakan, meski rujukannya sama yakni al-Qur’an dan al-Hadis mereka tetap mengatakan “ini pendapat saya benar namun berpotensi salah dan pendapat orang salah namun berpotensi benar”. Sikap yakin dengan pendapat sendiri itu penting, akan tetapi “pemutlakan” kebenaran pada pendapat itu yg dilarang. Kenapa demikian? Agar kita selalu mawas diri, kendati diambil dari sumber utama (al-Qur’an dan al-Hadis) namun ketika sumber itu dimasukkan dalam wadah pikiran dan menjadi pemahaman seseorang, maka dia berdimensi sempit sesuai kemampuan masing-masing penafsirnya.

Sehingga sangat lazim kita mendengar perkataan guru-guru (kyai), ketika menguraikan persoalan-persoalan agama mereka mengatakan “ini menurut mazhab ini dan itu-ini menurut pendapat imam ini dan itu”. Mereka tidak langsung mengatakan ini menurut al-Qur’an dan al-Hadis, apalagi mengatakan inilah “pendapat Allah dan Rasul-Nya”. Sikap ini adalah KEJUJURAN ILMIAH yang harus diteladani oleh kita terus menerus, agar pemutlakan pendapat terhindarkan, dan sikap kaku dengan pendapat sendiri serta antipati pada pendapat berbeda tidak terjadi.

Imam Ahmad bin Hambal sering berbeda hasil ijtihad dengan gurunya Imam Syafi’i, tidak serta merta mereka saling menyalahkan. Karena kedua Guru-Murid itu sangat paham, pendapatnya bukanlah kemutlakan yg absolute dan malah meski berbeda, saling hormat dan ikatan Guru-Murid semakin erat.

Teladan yang sering kita dengar dari guru-guru kita di NU adalah perbedaan pendapat antara Hadrotus Syeich Hasyim Asy’ari selaku Rais Akbar NU dan Wakil Rais Akbar KH. Faqih Maskumambang Gresik, pada persoalan Bedug-Kentongan. Kyai Hasyim berpendapat hanya Bedug yang diperbolehkan untuk memberikan tanda masuk waktu sholat, sedang Kentongan dilarang karena menyerupai lonceng agama lain. Berbeda dengan pimpinannya, Kyai Faqih membolehkan keduanya, sehingga karena ada 2 pendapat ini yang termuat dalam artikel Jurnal Ilmiah milik NU, Kyai Hasyim mengumpulkan para ulama dan meminta untuk dibacakan ke-2 pendapat itu.

Seusai kedua pendapat itu dibacakan, dengan kearifan Kyai Hasyim berujar : silakan menggunakan pendapat yang mana, namun jangan menggunakan Kentongan di Jombang (di wilayah beliau). Hingga pada suatu ketika, karena memiliki hubungan kekeluargaan dan keilmuan, Kyai Faqih mengundang Kyai Hasyim untuk mengisi pengajian di Gresik. Kebijakan baru diperintahkan oleh Kyai Faqih untuk masyarakat muslim di wilayahnya, bahwa ketika jadual Kyai Hasyim di Gresik, seluruh masjid harus menurunkan Kentongan untuk sementara. Begitulah sikap mulia oleh ulama-ulama kita dulu dalam saling hormat-menghormati.

Ada rahasia kenapa ulama-ulama kita ketika mencari solusi persoalan hukum tidak langsung ke al-Qur’an dan al-Hadis, namun mencari pendapat2 ulama/imam-imam mujtahid. Karena :

  1. selain mereka mengikuti pendapat Syeich Asy-Syathibi :
    قول العالم بالنسبة المقلد كالدليل بالنسبة المجتهد
    “Fatwa mujtahid bagi orang awam, laksana dalil bagi mujtahid” (sikap kehati-hatian ulama agar orang awam tidak seenaknya berbicara agama); juga
  2. Mereka menghindari terjerumusnya umat bertengkar dan saling menyalahkan dalam mempertentangkan al-Qur’an dan al-Hadis jika terdapat perbedaan. Jika mereka saling menyalahkan dalam perbedaan, hanya menyalahkan pendapat ulama saja.

Wallahu a’lam bis showab

Baca juga : Sunnah Memberi dan Menerima Hadiah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*