Internasional

American First

Hirup pikuk Pilpres AS telah usai. Ucapan selamat datang dr pelbagai belahan negara didunia tak terkecuali Indonesia. Teman sejawatpun bahkan adik tingkatpun terlihat senang dan gembira dg kekalahan Opa Trump. Gegap gempitanya begitu histeris. Yes, the USA as one of Big Power Politic in world tentu menyedot perhatian warga bumi layaknya partai Final FIFA World Cup, semua mata tertuju dengan skor akhir dipertandingan.

Ada hal yang menarik untuk disimak, yaitu tentang Slogan Make America Great Again di 2015 dan Keep America Great di 2020. Republikan sebagai motor penggerak utama Opa Trump dilahirkan dengan spirit utama anti perbudakan, pendukung modernisasi, pola konservatif dan mengikuti tradisi yang telah ditetapkan sebelumnya sangat berbeda dg rivalnya demokratic yang cenderung liberal dan kompromis.

Memberikan kebebasan yg besar kpd setiap individu dg setiap orang harus bertanggungjawab atas dirinya sendiri dan pemerintah akan mengintervensi ketika masyarakat tidak mampu menanganinya merupakan pembeda antara Republican dan Democratic. Selain pengalokasian dana yang sangat besar untuk “Natinonal Security” dan Intelegent merupakan upaya untuk mengembalikan Hegemoni america pasca perang dunia ke II.

Dalam sudut pandang Realisme, negara adalah faktor utama in International Relation yang bersifat Rasional, monolith, memperhitungkan Cost and Benefits dan berfokus pada struggle of power. Sebuah konsekuensi saat republican memimpin, para otokratis semakin berani tampil global. Upaya mengembalikan USA menjadi negara hegemoni telah dimulai saat Opa Trump dilantik Presiden. Diperdalam dengan status twitternya yaitu Trade War Policy. Dengan argumentative mempromosikan produk -produk dalam negeri dan mempertahankan segala kepentingan nasional yang sering disebut dengan istilah Economic Statecraft membuat peta baru persaingan ekonomi bukan hanya berlawanan dg Tiongkok, tetapi dg negara sekutu bahkan uni eropa. Puncaknya embargo produk – produk tiongkok. Economic statecraft more important than diplomacy.

Maka tak heran bila international policy Opa Trump ditandai dengan menarik diri dari The Paris Climate Agreement, Trans Pacific Partnership, Iran Nuclear Deal, UNESCO dan WHO atau Human Rights Council. Baginya International Relations bukanlah sebuah win – win solution melainkan zero – sum dg hanya satu pemenang sangat berbeda dg apa yang telah dilakukan oleh Barrack Obama yang cenderung diplomatis dan kompromis. Negara dianggap sebagai actor rasional, meskipun kaum realis sebanarnya takut akan kesalahfahaman persepsi orang -orang dalam pengejawatahannya. Terbukti para kaum globalist beramai – ramai “menghajar” kebijakan tersebut.

American First dan Hard power adalah sikap dan sifat Opa Trump. Tidak “membutuhkan” mitra kerja atau Konsensus internasional, terkesan angkuh dan arogan. Diplomasi atau kompromi internasional menyebabkan pudarnya kedaulatan negara. National security is number one. Itulah gaya kepemimpinan Republikan, Make American Great Again. Keamanan nasioanl baik dari militer atau intelejennya menjadi sector yang harus diperkuat dan akan menjadi penopang utama dalam interkasi antar negara, ini semakin menguatkan USA Era Trump terkesan angkuh. Harus diakui, Amerika dapat mengubah tatanan system internasional sesuai dengan tujuan politik Amerika serikat sendiri. Siapapun presidennya, American First akan menjadi prinsip dasar dalam bernegara.

Maybe, itulah salah satu yang menyebabkan kekalahan Opa Trump terasa memuaskan. Terutama bagi penganut Ideology Liberalis dan Kapitalis. Tak terkecuali dibelahan negara Asia pada umumnya. Lantas, kaitannya dengan Kemenangan Joe Bidden apakah berpengaruh besar terhadap Negara Indonesia? Dalam sejarahnya, menerangkan bahwa Indonesia memiliki hubungan diplomatic yang cukup erat dengan Amerika Serikat, dengan dinamika dan romantikanya setiap tonggak kepemimpinan Indonesia takan pernah putus dari Amerika Serikat. Untuk itu, menjaga hubungan baik dengan Amerika merupakan Langkah yang tepat, agar kepentingan Indonesia tetap terjaga terutama dalam politk luar negeri dan terus menjaga ketertiban dunia.

ASEP NAJMUTSAKIB
Magister Diplomasi Hubungan Internasional
Universitas Paramadina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *